logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Januari 2008 RAGAM
Line

Alokasia, Calon Idola Baru

Setelah era kejayaan anggrek ''berakhir'', muncullah pakis sebagai tren terbaru. Ketika pakis ''habis'', tampillah aglaonema dan euforbia. Dan ketika pamor keduanya memudar, tiba-tiba anthurium melejit. Jika booming anthurium usai, maka alokasia disebut-sebut bakal menggantikannya.

TREN dalam dunia hobi, khususnya terkait flora-fauna, seringkali muncul dengan sendirinya. Tetapi kebanyakan memang didesain oleh para cukong berkocek tebal, melalui berbagai cara.

Tidak perlu diperdebatkan, memang, karena ''permainan'' ini bukan sekadar menebalkan kantongnya saja, melainkan juga bisa menjadi sandaran hidup banyak orang dari kalangan menengah ke bawah.

Kisah mengenai anthurium pun mengikuti alur seperti ini. Tak heran jika petani sayur di Karanganyar pun berlomba-lomba alih profesi menjadi penangkar anthurium. Banyak yang menuai sukses secara materi.

Kini perhatian sebagian penggemar tanaman hias pun mulai beralih ke alokasia (Alocasia sp). Semula tanaman ini tak menarik perhatian orang, bahkan hanya tumbuh liar di pinggir sungai, sawah, atau tegalan yang lembab. Di musim hujan, daunnya yang lebar sering digunakan orang-orang desa sebagai ''payung''. Mereka menyebutnya sebagai talas hutan. Nah, mulai paham bukan?

Beberapa bulan terakhir, tanaman ini banyak dipajang di taman-taman kota, bahkan menembus hotel berbintang dan rumah-rumah mewah. Ya, alokasia se-karang menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan penggemar tanaman hias. Tidak heran jika bandar-bandar tanaman hias mulai serius menggarapnya, karena prospeknya dinilai sangat bagus. Beberapa kolektor telah mengoleksinya.

Keistimewaan

Tanaman ini memang belum sepopuler dua kerabat dekatnya: aglonema dan anthurium. Tetapi ia punya keistimewaan yang tidak dimiliki tanaman hias lainnya. Urat dan corak daunnya berbeda dan unik pada setiap jenisnya.

Alokasia cocok dipajang sebagai tanaman indoor, karena memang menyukai lingkungan yang teduh. Ada yang berbentuk daun singkong, tengkorak, kano, atau mirip tokek (belang-belang).

Permukaan daun di bagian bawah berwarna merah marun. Sedangkan bagian atas hijau kehitaman, atau merah kehitaman. Warna-warni ini terlihat mengkilap. Pada permukaan daun terdapat urat-urat berupa garis keputihan, yang menyerupai bentuk jaring laba-laba.

Keistimewaan lainnya, batang tanaman ini berbulu. Kalau diraba terasa halus seperti beludru. Namun karakter ini hanya dijumpai pada spesies tertentu, yaitu Alocasia puber yang hanya terdapat di Pulau Jawa.

Alokasia terdiri atas 70-an spesies (jenis) yang tumbuh di Asia dan Amerika Selatan. Salah satu jenis yang terkenal adalah Alocasia suhirmaniana. Tanaman ini ditemukan di hutan Sulawesi, yang dipercaya bakal memiliki harga termahal.

Jenis ini mempunyai daun yang sangat khas. Bentuknya seperti keladi hias. Permukaan daun bagian bawah berwarna ungu kehitaman, bagian atasnya hijau tua, dengan tulang daun terlihat keperakan.

Karena masih pendatang baru, harganya baru sekitar Rp 50.000 per daun. Tetapi alokasi yang amat eksotik bisa dijual seharga Rp 1,5 juta per daun.

Perbanyakan

Ada dua cara untuk memperbanyak tanaman alokasia, dan mudah dilakukan. Pertama, perbanyakan secara konvensional, menggunakan rhizoma. Kedua, perbanyakan melalui kultur jaringan (tissue culture).

Usahakan mengambil rhizoma dari alokasia yang banyak daunnya. Sebab, tanaman dengan banyak daun menandakan bahwa rhizoma juga panjang (13-15 cm). Potonglah rhizoma sepanjang 5 cm, lalu ditanam di media. Satu bulan kemudian akan muncul tunas baru.

Yang aman adalah perbanyakan melalui kultur jaringan. Caranya, ambil tunas baru yang mau tumbuh. Selanjutnya dicacah dan dimasukkan ke media agar, lalu diperbanyak. Setelah cukup besar, tanaman dipindah ke media tanam sesungguhnya.

Tanaman alokasia juga mengalami masa dorman, yaitu mengering dan lenyap dari permukaan tanah. Untuk mengatasinya, gantilah media tanam sekitar enam bulan sekali.

Penyebab dorman bermacam-macam. Misalnya, media tanam berupa tanah sehingga akar kesulitan menembusnya. Bisa juga karena terlalu banyak disiram, sementara intensitas panas matahari minim.

Di masa dorman, umbi tetap membesar meski daunnya tidak mau keluar. Dorman dapat berlangsung hingga setahun. Tetapi begitu ''bangun'', tanaman akan mengeluarkan banyak daun.

Saat terjadi dorman, diamkan saja tanaman. Jangan dikorek-korek, karena justru akan menimbulkan kebusukan. Kurangi penyiraman, dan pindahkan tanaman ke tempat lembab.

Jadi, usahakan agar kondisi media tidak terlalu basah, tetapi juga tidak terlalu kering. Ini bisa dicapai melalui penyiraman seminggu sekali, sehingga umbinya tidak membusuk. Apabila perawatan bagus, alokasia tidak akan mengalami dorman.

Selebihnya, alokasia termasuk tanaman yang tidak rewel dan tahan banting. Yang penting syarat hidupnya terpenuhi. Seperti tanah harus porous dan tidak boleh terlalu padat. Anda tertarik ? (Dela SY, dari berbagai sumber-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA