| Senin, 28 Januari 2008 | OLAHRAGA |
Sukses Mengusir GrogiDEMAM panggung, itulah yang dirasakan Novak Djokovic di final Australia Terbuka 2008 menghadapi Jo-Wilfried-Tsonga. Beruntung, dia bisa mengenyahkan perasaan gugup dan grogi berkat pengalamannya tampil di final Amerika Serikat Terbuka 2007. "Sebenarnya saya sudah melakukan banyak hal sebelum pertandingan untuk mengusir nervous. Saya menonton film di kamar hotel, mendengarkan musik, dan membuang jauh-jauh semua pikiran tentang tenis. Itu membantu saya menjadi tenang. Sayangnya, semua itu berubah dalam dua detik, ketika saya masuk ke Rod Laver Arena yang penuh orang," katanya kepada Reuters. Djokovic pun menjadi grogi sejak awal pertandingan. Statusnya sebagai pemain yang lebih difavoritkan untuk menang dibandingkan Tsonga sangat mempengaruhi pikirannya. "Dalam laga tadi, Tsonga yang underdog, bukan saya. Selalu membahayakan bermain melawan seorang underdog yang tampil tanpa beban," tuturnya. "Perasaan saya setelah menang sukar dilukiskan. Apalagi saya petenis Serbia pertama yang memenangi sebuah gelar grand slam. Tapi, saya tak ingin terjebak dalam euforia," tandasnya. Kendati gagal, Tsonga menyatakan tak terlalu kecewa. Dia mengaku bangga atas pencapaiannya di ajang tersebut. Sebelum tampil di partai puncak, pemuda Prancis berperingkat 38 dunia itu menyingkirkan sederet petenis ternama, mulai dari Andy Murray, Richard Gasquet, Mikhail Youzhny, hingga Rafael Nadal. Dengan pencapaian itu, Tsonga akan menembus 20 besar ATP dalam daftar yang akan dirilis nanti. Fakta penting lain, sebagai runner-up dia berhak atas hadiah 602.800 dolar AS (sekitar Rp 5,6 miliar). Jumlah itu jauh di atas seluruh uang yang diraihnya selama berkarier sebagai petenis profesional, yakni 484.813 dolar AS (sekitar Rp 4,5 miliar). (Abduh Imanulhaq-78) |