| Senin, 28 Januari 2008 | OLAHRAGA |
Klub Embrio Persijap Didanai Nelayan
FISIK H Pani masih segar, sekalipun usianya sudah 70 tahun lebih. Penglihatannya juga masih cermat kendati tanpa bantuan lensa kacamata. Sebagai mantan pesepak bola, kakinya masih kokoh meski pernah mengalami cedera. Ingar bingar persepakbolaan nasional tak lepas dari pantauannya. Informasi bumbu anarki di dalam dan luar stadion sepanjang tahun, pro kontra penggunaan dana APBD untuk klub, dan catatan prestasi menjadi santapannya melalui surat kabar maupun televisi. Catatan prestasi Persijap yang menembus Superliga 2008 tak lepas dari pengamatannya. ''Andai tidak takut ada kerusuhan, saya mungkin masih akan menonton bola di stadion,'' seloroh Pani yang kini tinggal bersama istrinya Hj Maryatun di Dukuh Juwetan Desa Kecapi RT 37 RW 7 Kecamatan Tahunan, Jepara. Pada 1940-an, ketika Jepang menduduki Tanah Air, Pani memperkuat tim Kuda Laut yang kemudian berganti nama Sinar Laut, salah satu embrio Persijap. Klub pesisir itu kini berubah nama menjadi Persatuan Sepak Bola Putra Demaan (PSPD) dan ada di kelurahan Demaan. Ketika itu Sinar Laut menjadi pemasok utama pemain Persijap saat didirikan tahun 1954. Pada dua dasawarsa sebelumnya, di Jepara sudah berdiri Yapara Voedbal Club (YVC) dan Alsides yang diprakarsai pemerintah kolonial Belanda. Periode Sinar Laut adalah masa antara YVC dan menjamurnya banyak klub di tingkat kecamatan pada era 1960-an dan 1970-an. Pani menjadi salah satu pendiri Sinar Laut sekaligus bermain di posisi bek dari tim yang berseragam biru itu. Klub tersebut banyak diperkuat pemain remaja dan pemuda yang rata-rata anak nelayan, termasuk Pani kecil. Angkut Garam Sinar Laut tetap eksis dengan dana yang ditopang dari kalangan nelayan. Tidak ada sumber dana dari pemerintah sedikit pun, meski klub embrio Persijap itu melakoni kompetisi lokal dan tur ke daerah lain seperti Kudus, Pati, dan Rembang. Stadion Kamal Djunaidi dulu memang home base Sinar Laut . Saat itu kompetisi digelar pada musim hujan. ''Saat musim hujan ombak laut tinggi, jadi para pemain tidak melaut. Kalau kemarau, latihan berkirang dan kompetisi berhenti,'' tutur Pani. Dana klub bersumber dari jasa transportasi perahu nelayan untuk mengangkut garam. ''Setiap pengiriman dapat uang transportasi. Dana itulah yang dugunakan untuk membeli makanan dan minuman saat latihan dan seragam,'' lanjutnya. Ada puluhan perahu yang menjadi penopang sumber dana. Para pemain juga tak segan menyewa perahu dari pemiliknya untuk dibawa melaut. Setelah hasilnya dibagi untuk pemilik dan kebutuhan keluarga, sisanya untuk mendanai klub. Sumber dana juga muncul dari fee proses pelelangan ikan. Semangat mencari dana sendiri itu tak lepas dari kecintaan masyarakat setempat terhadap Sinar Laut. ''Kalau masyarakat tidak mencintai, susah mencari dana sendiri,'' katanya. Apa yang menjadi semangat masa lalu itu, bisa menjadi refleksi Persijap saat ini yang masih berusaha mencari jalan keluar pendanaan klub. Dana bersyarat dari APBD 2008 sebesar Rp 10 miliar, jika sampai tidak diperkenankan Mendagri, akan menyulitkan Persijap. Usaha pencarian dana non-APBD perlu dilakukan serius, dengan semangat merangkul masyarakat pecinta Persijap. (Muhammadun Sanomae-22) |