logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Januari 2008 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Jangan Terlena oleh Prestasi Chris John

Dengan gemilang, Chris John kembali berhasil mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu versi Asosiasi Tinju Dunia (WBA). Giliran petinju asal Panama, Roinet Caballero yang dikalah-kannya dengan TKO pada ronde ketujuh dalam pertarungan wajib di Jakarta, Sabtu malam lalu. Tidak terasa telah empat tahun lebih petinju asal Banjarnegara itu menyandang status sebagai juara dunia. Dalam periode tersebut, petinju berjejuluk The Dragon itu hanya pernah ''ditemani'' satu juara dunia lain asal Indonesia, yaitu Muhammad Rachman. Waktunya pun relatif singkat. Sekarang, Rachman tidak lagi menjadi juara dunia.

Gambaran demikian menunjukkan tidak mudah mengangkat aset bangsa menjadi juara dunia, apalagi bertahan sampai beberapa tahun. WBA bahkan akan memberi apreasi khusus bagi Chris John apabila dia berhasil mempertahankan gelarnya untuk kali kesepuluh nanti. Telah disiapkan predikat super champion dan sabuk juara yang terbuat dari emas sebagai penghargaan kalau prestasi itu bisa diraih anak asuhan Craig Christian tersebut. Walaupun masih ada unifikasi gelar sebagai predikat tertinggi yang bisa diincar Chris, namun apa yang didapatkannya sekarang bagaimanapun sudah luar biasa.

Apalagi bila melihat statistik penampilannya. Dia tidak terkalahkan dalam 42 kali pertarungan di ring profesional. Hanya sekali hasil imbang yang menodai keperkasaannya. Reputasi sebagai juara dikuatkan dengan kemenangannya yang tak hanya didapat di dalam negeri. Dia mampu mengalahkan jagoan Jepang dan Australia di kandang lawan. Sembilan kali sudah sabuk juara berhasil dipertahankannya. Pada sisi lain, kebanggaan akan kehebatan Chris John itu jangan sampai melenakan kita semua. Penerusnya harus disiapkan secara matang untuk menembus ketatnya pentas tinju dunia.

Nama-nama seperti Daudy Bahari, Roy Mukhlis, dan Daud Jordan memang berpotensi untuk mengikuti jejak Chris John. Mereka telah meme-gang gelar untuk level Asia. Bahkan Roy Muklis berjaya di dua versi, yaitu PABA dan WBO Oriental. Usianya juga masih muda, beberapa tahun jauh di bawah Chris John yang sekarang berumur 27 tahun. Yang perlu dicatat, dalam pengembangan karier atlet, ring profesional sangat berbeda dari amatir. Jenjang prestasi di level amatir terbingkai dalam jadwal yang relatif jelas, sedangkan di wilayah profesional, promotor ikut menjadi penentu kejayaan seorang petinju.

Takbisa dipungkiri, keaktifan promotor merupakan potensi besar bagi pemunculan petinju-petinju yang bisa mengangkat nama bangsa. Sekarang terasa benar negeri ini belum memiliki promotor yang punya kontinuitas tinggi untuk mengorbitkan bintang-bintang baru. Dalam perjalanan sejarah prestasi tinju profesional sejak era Thomas Americo - petinju pertama Indonesia yang mendapat kesempatan menantang juara dunia - pada awal 1980-an, perjuangan sang promor dari dalam negeri sangat menentukan. Begitu pula sekarang saat Chris John harus secara rutin berlaga untuk mempertahankan gelarnya.

Ketidakterlenaan pada prestasi Chris John bisa diwujudkan dengan upaya memperbanyak promotor yang mampu menghadirkan juara-juara dunia ke negeri ini. Komisi Tinju Indonesia (KTI) harus memiliki cetak biru yang jelas, agar muncul banyak promotor yang punya kalender tetap dan visi jelas dalam membawa petinju-petinju kita berjaya di level yang lebih tinggi. Bahkan KTI bisa berperan sebagai fasilitator dengan mengajak dunia usaha secara konsisten bekerja sama. Langkah itu penting, mengingat dana yang dibutuhkan memang tidak sedikit agar kejuaraan dunia bisa digelar di Indonesia.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA