| Senin, 28 Januari 2008 | NASIONAL |
Pemimpin Dunia Mengenang Era Stabilitas SoehartoSINGAPURA - Para pemimpin dunia menyampaikan bela sungkawa dan penghargaan kepada almarhum Soeharto atas peranannya mewujudkan stabilitas dan pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara. Namun, mereka mengakui noda pelanggaran hak asasi manusia selama dia berkuasa juga tidak mudah dihapuskan. ''Mantan presiden Soeharto adalah salah seorang kepala pemerintahan yang paling lama menjabat pada abad terakhir ini. Dia juga sosok berpengaruh di kawasan Australia dan regional,'' kata Perdana Menteri Australia Kevin Rudd. ''Mantan presiden juga seorang sosok kontroversial berkaitan dengan isu Timor Timur dan banyak yang tidak sependapat dengan pendekatannya,'' kata Rudd. Dia memuji kiprah Soeharto memodernisasi Indonesia serta upayanya menyemai persatuan di kawasan regional. Pemimpin Singapura juga menyampaikan penghormatannya. ''Singapura menyampaikan bela sungkawa mendalam bagi rakyat Indonesia atas kehilangan sosok pemimpin itu,'' kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Singapura. Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi mengatakan, meninggalnya Soeharto merupakan kehilangan besar bagi kedua negara. ''Kami berdoa kepada Allah semoga arwah Pak Harto diterima di sisiNya,'' kata Abdullah kepada wartawan. Mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohamad (82) mengatakan, ''Saya menganggap beliau sebagai sahabat Malaysia sekaligus sahabat pribadi saya.'' Dia menambahkan, ''Meskipun Indonesia bukanlah sebuah negara demokrasi ideal semasa pemerintahan Soeharto, faktanya dia telah berhasil membawa stabilitas bagi Indonesia. Sudah tentu, ada harga yang harus dibayar,'' kata Mahathir. Dia mengakui, memang ada orang yang menderita selama pemerintahan Soeharto. Mahathir mengatakan, negerinya berutang pada Soeharto karena dialah yang mengakhiri konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Akhir Sebuah Era Belanda, bekas penjajah Indonesia, menyebut-nyebut stabilitas yang dibawa Soeharto, kendati juga menyambut baik transisi menuju demokrasi saat ini. ''Di bawah kekuasaan Soeharto, Indonesia mengalami masa yang relatif stabil. Ekonomi tumbuh dengan kuat, khususnya pada tahun 1980-an,'' kata Menteri Luar Negeri Belanda Maxime Verhagen. ''Setelah dia turun, Indonesia memilih pemimpin baru secara demokratis. Hal itu menegaskan bahwa Indonesia adalah negara demokratis karena suara rakyatlah yang menentukan,'' kata dia. (rtr-gn-25) |