logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Januari 2008 SEMARANG
Line

Pendirian Koperasi Pesantren Terkendala Dana

UNGARAN - Keberadaan koperasi dalam sebuah pondok pesantren (ponpes) sangat dibutuhkan. Namun kenyataan di lapangan, niat tersebut terbentur faktor modal. Untuk urusan sumber daya manusia (SDM), hal itu bisa dipelajari bersama.

Kepala Kantor Depag Kabupaten Semarang Wahuri Mochtar melalui Kasi Pendidikan Keagaamaan dan Pondok Pesantren (Pekapontren) M Wafa menyampaikan hal itu, Rabu (23/1). ''Selama ini para santri belum semuanya dilatih manajemen koperasi. Kami berharap semua pihak turut serta membantu berdirinya koperasi pondok pesantren (kopontren),'' kata Wafa saat pelatihan perkoperasian yang dihadiri 110 ponpes se-Kabupaten Semarang.

Ia menegaskan, pesantren merupakan salah satu pilar bangsa yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Santri adalah aset bangsa yang harus dikembangkan SDM-nya di segala bidang. ''Dengan adanya koperasi saya rasa ini akan mengembangkan rasa kewirausahaan. Para santri juga siap menghadapi dinamika zaman,'' ungkap Wafa.

Koperasi yang sesuai dengan para santri di antaranya sembako, peternakan, dan pertanian. Bantuan yang diberikan mestinya yang sesuai dengan kebutuhan dan SDM. Drs H Nur Hadi Makruf selaku ketua panitia menyatakan, pihaknya kini baru membangun semangat santriwan-santriwati untuk terus maju. ''Kendala lainnya, Pemkab mau membantu kalau sudah ada wujud usaha koperasi,'' terang dia.

Padahal, dari 115 pesantren se-Kabupaten Semarang, baru 20 yang memiliki koperasi. Itu pun yang berbadan hukum baru lima koperasi, sehingga masih ada 95 ponpes yang belum mempunyai koperasi. Ia menegaskan, setelah ini akan ada pelatihan di tingkat teknis administrasi.

Berjasa

Wakil Bupati Semarang Hj Siti Ambar Fathonah dalam sambutannya mengatakan, pondok pesantren amat berjasa dalam ikut serta mencerdaskan bangsa dan mencetak tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat yang berakhlaqul karimah. ''Sebagian santri biaya pendidikan termasuk biaya hidup ada yang ditanggung kiai atau pengurus. Bahkan, hingga sampai menjadi pasangan pengantin masih dibiayai. Ini yang membuat kami salut,'' terangnya.

Data Depag mencatat, dari 115 pesantren ada 13.299 santri dan 1.537 ustad/guru. Untuk menopang itu diperlukan pemberdayaan bagi para pengelola ponpes agar lebih produktif, kreatif, dan inovatif dalam memberdayakan SDM. ''Koperasi membuktikan keberadaannya di tengah masyarakat. Begitu pun di ponpes, kehadiran koperasi sangat diperlukan,'' tandas Ambar.

Wafa menambahkan, pelatihan bertujuan mempersiapkan sumber daya pesantren yang terampil dan inovatif dalam menghadapi perubahan zaman yang dinamis. Di samping itu, untuk membekali keahlian di bidang perkoperasian dan wiraswasta sebagai upaya pengaderan para santri untuk hidup lebih kreatif dan mandiri. ''Yang terpenting, pemberdayaan santri menuju ekonomi kerakyatan.'' (H14-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA