| Senin, 28 Januari 2008 | SEMARANG |
Pedagang Kerupuk Terancam Gulung Tikar
DEMAK- Kenaikan harga kebutuhan pokok yang terjadi sebulan terakhir mulai dirasakan memberatkan warga. Seperti yang dialami sejumlah pedagang kerupuk yang merasa tertekan, lantaran kenaikan harga bahan baku tidak diimbangi dengan penjualan.Para pelaku usaha rumahan ini pun mulai goyah, karena kenaikan harga bahan-bahan baku kerupuk yang berlangsung mendadak. Salah seorang pengusaha kerupuk, Yuni Fitriani (32), warga Bakalrejo, Kecamatan Guntur, terpaksa mengurangi produksi. Pasalnya, daya beli masyarakat menurun drastis seiring dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Karena itu, jika biasanya dalam satu hari memutar dana Rp 4 juta untuk kerupuk, kini hanya Rp 1 juta. Dengan begitu ia harus berjuang keras agar hasil produksinya terjual habis. Apalagi ibu satu anak ini harus mempertahankan 18 tenaga kerjanya untuk tetap bekerja. ''Mereka sudah lama kerja di sini, jadi tidak pernah terlintas untuk memutus hubungan kerja,'' katanya. Naik Para pekerja yang sebagian besar warga sekitar itu terlihat bersemangat bekerja. Mereka menjalankan tugas masing-masing, mulai dari mengaduk bahan baku, mengiris kerupuk mentah, menjemur, hingga memasak. Kerupuk yang dibuat berbahan baku terigu dan tepung tapioka. Harga bahan dasar tersebut naik cukup tajam. Tepung yang semula Rp 1.600/kilogram menjadi Rp 3.500/kilogram, terigu yang semula Rp 6.000/kilogram jadi Rp 6.800/kilogram, minyak goreng dari Rp 9.500/kilogram menjadi Rp 11.000/kilogram. Menghadapi kenyataan itu, ia tidak berani menaikkan harga jual. Sebab, jika hal itu dilakukan dikhawatirkan akan ditinggal pelanggan. ''Kami mengutamakan pelanggan. Mempertahankan mereka lebih mudah daripada harus mencari pelanggan baru,'' katanya. Namun, dia tidak bisa menjamin kelangsungan usaha yang sedang digeluti, bila harga bahan dasar tidak turun atau setidaknya stabil. (H1-37) |