logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Januari 2008 SEMARANG
Line

Seorang Meninggal, Warga Muktiharjo Resah

  • DB dan Chikungunya Merebak

SEMARANG-Heru Setiyawan (12), warga RT 7 RW 8, Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, Minggu (27/1) pagi, meninggal karena penyakit DB. Anak ke-3 dari empat bersaudara pasangan Sugiyono (48) dan Bariyah (36) itu meninggal saat dirawat di Puskesmas Satrio Manah, Tlogosari. Sugiyono mengatakan, putranya yang masih duduk di bangku kelas V SD itu menampakkan gejala sakit seminggu yang lalu. Namun, dia tidak menyadari kalau Heru terjangkit penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. ''Sabtu (26/1) saya membawa Heru ke Puskemas. Akan tetapi, perawat mengatakan kalau anak saya baru dalam tahap gejala DB. Sekitar pukul 03:00 tadi (Minggu-red), Heru mengalami kejang-kejang. Namun kata perawat tidak apa-apa, itu hanya reaksi obat,'' ungkap Sugiyono.

Selanjutnya, sekitar pukul 07:00, korban diketahui sudah meninggal saat dokter hendak melakukan pemeriksaan. Warga meminta Pemkot secara serius memperhatikan serta menangani kasus demam berdarah dan Chikungunya yang kini semakin meresahkan.

Warga Khawatir

Warga Muktiharjo Kidul, Pedurungan, meminta Pemkot melalui Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang melakukan pengasapan atau fogging di wilayah kampung tersebut. Hal itu menyusul kekhawatiran warga terkait maraknya penyakit demam berdarah (DB) dan Chikungunya yang merebak di kampung itu.

''Di sini banyak sekali warga yang terkena DB, namun untuk jumlah pastinya saya tidak tahu. Tidak hanya DB, yang lebih membuat kami sangat khawatir yaitu Chikungunya,'' kata Muryadi (45), warga RT 8 RW 8, Muktiharjo Kidul, Pedurungan, Minggu (27/1)

Dia menambahkan, sedikitnya lima warga di wilayah RT 8 terserang penyakit misterius dengan gejala mirip Chikungunya. Dari lima orang itu, dua di antaranya terpaksa dirawat di rumah sakit dan tiga lainnya menjalani rawat jalan. Mereka mengalami panas tinggi dan nyeri pada persendian. Karena merasa khawatir akan meluas penyakit itu, warga melakukan fogging secara swadaya.

''Tidak hanya khawatir, ini sudah dalam tahap membuat warga resah. Kalau menunggu action dari Pemkot lama, makanya kami (warga-red) urunan untuk membayar fogging secara swadaya,'' tandas Muryadi.(H40,H9-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA