| Senin, 28 Januari 2008 | SEMARANG |
Warga Hijaukan Tepian Kali GarangBAK konduktor dalam sebuah orkestra, seniman Bowo Kajangan memimpin ritual menanam pohon di sepanjang tepi Kali Garang. Berdiri di atas batu besar, yang menyembul di tengah aliran sungai besar itu, dengan setengah berteriak dia mengajak anak-anak menanam pohon. Ya, Bowo harus berteriak kencang karena aliran Kali Garang yang cukup deras, acapkali ''menenggelamkan'' suaranya. Apalagi, bersamaan dengan itu, tetabuhan gambang dan gong seperti berkompetisi dengan komando yang diteriakkannya. ''Ayo padha nandur. Mari kita menanam sepanjang sungai,'' teriak dia. Di belakangnya, seperti sepasukan tentara yang patuh, sekitar 30-an anak mengikuti pemilik Omahpring tersebut. Setiap anak, yang mengenakan tutup kepala dari dedaunan, membawa sebatang bibit tanaman yang akan ditanam. ''Ayo padha nandur, ayo padha nandur,'' sahut anak-anak, mengikuti komando Bowo Kajangan. Adegan menarik itu merupakan bagian dari kegiatan ''Gawe Alas Sujud'' di tepi Kali Garang. Kegiatan itu diselenggarakan oleh Omahpring dan Karang Taruna Satya Pratama, Talangsari, Bendanduwur, Gajahmungkur. Lewat kegiatan itu, para pemuda kampung bersama seniman menanam pohon di lereng kritis Kali Garang sepanjang 300 meter. Malam harinya, di lapangan bulutangkis kampung itu, digelar pembacaan puisi dan geguritan, teater, serta pemutaran film. ''Penanaman pohon dalam balutan seni ini merupakan wujud keprihatinan kami atas kerusakan lingkungan yang terjadi,'' tutur Bowo. Arak-arakan Kegiatan dimulai dari Omahpring, yang terletak di Jl Talangsari IV, RT 04 RW 04 Bendanduwur, yang persis terletak di tepi Kali Garang. Di depan rumah bambu milik Bowo Kajangan itu, anak-anak melakukan performance art, yang mengusung semangat untuk menanam. Di bawah keteduhan pohon-pohon jati, anak-anak ''bermain-main'' dalam balutan seni. Mereka nembang, memainkan angklung, dan menggunakan bebatuan sekepalan tangan untuk menghadirkan musik yang riang. Dari tempat itu, mereka mengusung ratusan bibit, yang akan ditanam di Kedhung Jaran, yakni tepi Kali Garang yang termasuk lahan kritis. Bibit-bibit yang mereka tanam itu, antara lain jati, sengon, mahoni, dan juga angsana. Bantuan bibit mengalir dari komunitas lain, seperti warga Kampung Gebyog dan Komunitas Kandanggunung, Gunungpati. Setiap anak bertanggung jawab untuk menanam, setidaknya sebatang pohon. Menariknya, setelah bibit ditanam, setiap anak diminta untuk berdoa bagi keberlangsungan hidup pohon tersebut. Mau tahu doa anak-anak itu? ''Wit, wit. Kowe uripa nganti gedhe ya. Mbesok taknggo gawe omah (Hai pohon, kamu tumbuh besar ya. Nanti kupakai bikin rumah),'' pinta Aldo (8), di depan pohon mahoni yang baru ditanamnya.(Achiar M Permana-41) |