| Senin, 28 Januari 2008 | SEMARANG |
Kutu di Raskin Tak BerbahayaSEMARANG- Kualitas dan keamanan raskin yang dibagikan kepada warga, tetap aman untuk dikonsumsi, walau dalam beras ada hewan sejenis kutu yang populer dengan sebutan gurem. Hal ini disampaikan Kepala Gudang Bulog 101 Pedurungan, Suharwindoyo, Sabtu (26/1). Menurut dia, gurem tidak bisa masuk ke dalam karung dan tidak membahayakan bagi orang yang memakan berasitu. ''Hewan itu hanya makan katul yang menempel di karung, paling kalau kena angin akan hilang," katanya. Ditambahkan, tiap tiga bulan sekali pihaknya mengadakan fumigasi. Langkah itu untuk menghilangkan gurem dan hewan pengganggu lainnya. Suharwindoyo menuturkan, gudang Bulog 101 yang berada di Jalan Raya Brigjend Sudiarto itu melayani lima kecamatan di Kota Semarang dan empat kecamatan di Kabupaten Demak. Stok raskin di gudang tersebut saat ini mencapai 6.200 ton. Rencananya, mulai hari ini (28/1), raskin didistribusikan ke lima kecamatan di Semarang lalu menyusul kecamatan di Demak. Ditera Ulang Mengenai keluhan timbangan beras yang diterima warga, dia mengatakan secara berkala timbangan yang digunakan pada tiap gudang Bulog selalu ditera ulang. Karena itu, kecil kemungkinan kekurangan timbangan beras untuk warga miskin (raskin) karena timbangan Bulog tidak akurat. Sebelumnya diberitakan, warga Rejosari mengeluhkan ketidakakuratan timbangan raskin yang mereka beli di kantor kelurahan. Untuk setiap paket berisi 10 kilogram raskin, kekurangan timbangan berkisar antara 0,5-1,5 kilogram. Dari paket yang dibeli warga seharga Rp 16.500 per 10 kilogram, kenyataannya warga hanya menerima sekitar 8,5 kilogram. Menurut Suharwindoyo, Bulog juga selalu menimbang secara benar, raskin yang akan didistribusikan kepada warga. "Soal kuantitas beras di gudang, kami selalu melakukan pengecekan, jadi kecil kemungkinan beratnya kurang," tandasnya. Soal kualitas raskin yang disalurkan, dia menyatakan, rumah tangga miskin (RTM) yang membeli raskin tak perlu khawatir. Bulog menjamin, kualitas raskin yang disalurkan setara dengan beras kelas medium atau SNI nomor 4. ''Meski warnanya tidak seputih beras di pasaran, namun kualitasnya tidak kalah,'' katanya. Diakuinya, warna raskin memang tidak secerah beras di pasaran. Hal itu berkait dengan teknik penyimpanan, yakni raskin yang akan didistribusikan ke masyarakat rata-rata hasil pengadaan pertengahan tahun lalu. Supaya bisa awet, kata dia, perlu diberi zat khusus sehingga tidak cepat busuk. (H9,H22-41) |