| Senin, 28 Januari 2008 | KEDU & DIY |
Susah Mencari Tempe di PasaranYOGYAKARTA - Sejak harga kedelai melambung, pembuat tempe mengurangi produksinya bahkan ada yang berhenti total. Kini makanan tradisional tersebut susah diperoleh. Di warung-warung makan biasanya selalu ada tempe namun sekarang nyaris menghilang. Kalaupun ada hanya segelintir dan langsung ludes terjual. "Bagaimana mau makan tempe yang murah dan bergizi lha wong sekarang saja susah mau cari di mana. Kadang-kadang memang masih ada warung makan menyediakan tempe tapi tipis-tipis dan rasanya agak pahit," ujar Nonik, ibu rumah tangga warga Umbulharjo, Yogyakarta, kemarin. Dia menuturkan, sudah tiga minggu ini jarang mengonsumsi tempe. Sebelum harga kedelai mahal dia setiap hari selalu menyertakan tempe sebagai lauk. Tanpa itu rasanya kurang pas karena sudah jadi kebiasaan apalagi harganya murah. Sementara itu, hingga kemarin harga kedelai masih tinggi. Jenis lokal mencapai Rp 8.500/kg, sebelumnya seminggu lalu Rp 8.250/kg. Sebaliknya harga kedelai impor turun dari semula Rp 8.000-an/kg sekarang Rp 7.200/kg. Harga tersebut masih tinggi karena biasanya berkisar Rp 4.000/kg. Stok Mencukupi Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Yogyakarta beberapa hari lalu memantau dan mendapati harga kedelai memang masih tinggi. Kasi Pengawasan Disperindagkop Imam Nur Wahid mengungkapkan, stok kedelai di pasar tradisional masih mencukupi. "Harga kemungkinan akan turun kalau berlangsung panen kedelai tapi untuk mencapai Rp 4.000/kg tampaknya agak susah," jelasnya. Selain bahan dasar pembuat tempe tersebut, harga-harga kebutuhan pokok lain juga ikut melejit. Tepung terigu misalnya, mendekati Rp 6.900/kg, minyak goreng naik hampir Rp 300/kg dari Rp 9.500 menjadi Rp 9.875. (D19-70) |