| Senin, 28 Januari 2008 | INTERNASIONAL |
Obama Pukul Telak HillaryCOLUMBIA - Kandidat presiden Amerika Serikat dari Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton, Minggu kemarin langsung berpacu untuk menghadapi pertarungan berikutnya setelah Obama memukul telak rivalnya dalam primary South Carolina. Obama, senator Illinois, meraih dukungan 55 persen, sedangkan Hillary hanya kurang dari separonya, yakni 27 persen. Kemenangan Obama merupakan hasil dukungan kuat kelompok kulit hitam. John Edward berada pada posisi ketiga dengan perolehan suara 18 persen. Dengan perolehan itu, nasib pencalonan Edward makin suram. Kemenangan Obama setelah dua kali berturut-turut dikalahkan Hillary di New Hampshire dan Nevada, memberikan momentum baru bagi dia menuju ''Super Tuesday'' 5 Februari, yakni ketika primary Demokrat digelar serentak di 22 negara bagian. ''Malam ini, mereka yang sinis dan menganggap peristiwa di Iowa hanya sebagai ilusi harus menerima kisah yang berbeda berkat orang-orang baik South Carolina,'' kata Obama di depan para pendukungnya di Columbia, ibu kota negara bagian itu. ''Dalam waktu hanya sembilan hari lagi, hampir separo negara bagian akan berkesempatan bergabung bersama kita untuk mengatakan, kita telah jemu dengan status quo di Washington. Kita haus akan perubahan, dan kita siap untuk percaya pada perubahan,'' kata dia. Obama bergegas meninggalkan South Carolina dan terbang menuju Negara Bagian Georgia. Hillary sudah menuju Negara Bagian Tennessee bahkan sebelum penghitungan suara selesai. ''Seluruh perhatian kini tertuju pada Tennessee dan negara-negara bagian lain yang akan memberikan suara pada 5 Februari,'' kata Hillary di Nashville. ''Jutaan warga Amerika akan berkesempatan menyuarakan aspirasi mereka.'' Dirugikan Bill Clinton Obama membalas serangan Bill Clinton. Pada kampanye di South Carolina, Clinton mengecam pernyataan Obama yang menyebutkan bahwa Republik telah menjadi ''partai angan-angan'' selama beberapa tahun belakangan ini. Atas kecaman Clinton, Obama mengatakan itulah bukti telah terjadi sesuatu yang salah dengan Washington. Pertarungan di South Carolina makin memanas dengan kampanye yang berisi saling tuduh dan kecaman pribadi antara dua kandidat, yang dipicu oleh kecaman Bill Clinton. Hasil exit poll bahkan sudah mengunggulkan Obama dengan dukungan satu banding lima dari kalangan kulit hitam. Dia juga meraih 25 persen dukungan dari kalangan kulit putih, lebih tinggi dari perkiraan semula. Edwards dan Hillary harus berbagi dukungan dari kalangan kulit putih. Hasil South Carolina tampaknya menandakan bahwa kecaman Bill Clinton justru merugikan istrinya. Sekitar enam dari 10 pemilih mengatakan, kampanye dia sangat menentukan pilihan mereka. Dari kalangan pemilih itu, Obama meraih 47 persen, sementara Hillary memperoleh 38 persen. Obama juga meraih dukungan lebih dari separo pemilih yang menentukan pilihan mereka pada hari terakhir menjelang pemungutan suara. Edwards, mantan senator North Carolina dan calon wakil presiden pada pemilu 2004, berusaha meraih manfaat dari pertikaian keras dua kandidat itu, namun dia justru gigit jari di daerah asalnya. Meskipun berada pada posisi ketiga selama tiga kali berturut-turut, dia menyatakan tetap akan maju bertarung hingga selesai. ''Sekarang kami menuju 5 Februari. Jutaan warga Amerika akan memberikan suara dan membentuk masa depan partai ini serta masa depan Amerika,'' kata Edwards. Jumlah pemilih pada primary South Carolina itu mencapai rekor, yakni lebih dari 500.000 suara. Sementara itu, para kandidat dari kubu Republik memusatkan perhatian mereka pada primary di Florida Selasa besok. Primary di negara bagian ini sangat penting bagi Republik karena Florida merupakan basis konstituen partai itu. Senator John McCain dan mantan gubernur Massachusetts Mitt Romney bakal bersaing ketat di Florida setelah primary di South Carolina pekan lalu. McCain menang di South Carolina dan Romney menang di Michigan serta Nevada. Jajak pendapat Reuters/C-SPAN/Zogby menunjukkan kedua kandidat itu sama kuat dengan dukungan 30 persen di Florida.(rtr-gn-25) |