| Senin, 28 Januari 2008 | EKONOMI |
Gerakan ''Ayo ke Bank'' Digelar SerentakSEMARANG-Lebih dari 2.500 bankir dari 52 institusi perbankan di Semarang berpartisipasi dalam pencanangan gerakan edukasi perbankan yang berlangsung di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Minggu (27/1). Gerakan edukasi bertema ''Ayo ke Bank'' ini diharapkan dapat mewujudkan terciptanya masyarakat yang mampu mengelola keuangan secara bijaksana. Komitmen industri perbankan yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia pada 27 Januari ini, menurut Pemimpin Bank Indonesia (BI) Semarang M Zaeni Aboe Amin, hanya titik awal dari pelaksanaan program edukasi perbankan. ''Setiap bank punya jangkauan dan fokus kepada masyarakat. Namun tema edukasi sangat beragam dan terkadang dicanangkan hampir bersamaan, sehingga pesan yang disampaikan kurang efektif,'' katanya, kemarin. Penandatanganan naskah kerja sama (MoU) juga dilakukan BI dengan sejumlah instansi untuk mendukung gerakan ''Ayo ke Bank''. MoU tentang pelaksanaan program edukasi ditandatangani Dinas Pendidikan Kota Semarang yang diwakili Kasubdin Perencanaan Dinas Pendidikan Nana Storada dan Ketua Kadin Jateng Solichedi. Kemudian dengan Rektor Universitas Stikubank Prof Dr Y Sutomo MM untuk memasukkan edukasi ini dalam kegiatan perkuliahan. Agenda lain, peluncuran Mobil Pintar dan Mobil Edukasi (MOBED), serta penandatanganan MoU antarbank umum, seperti Lippo Bank, Mandiri, BRI, dan BTN tentang kerja sama gerakan edukasi serta pelaksanaan transaksi pembayaran melalui perbankan. Rekor Muri Pemilihan blangkon yang dikenakan para bankir ini, rupanya juga dicatatkan dalam Rekor Muri ke-2.980 dengan pemecahan rekor pemakai blangkon dengan peserta terbanyak. Tema blangkon sendiri dimaksudkan untuk mengangkat budaya Jateng, sebagai salah satu media untuk memperkenalkan Jateng The Heritage of Asia. Rekor Muri juga terpecahkan ketika 11.595 bankir dari 66 bank dalam negeri membentuk rantai di lapangan monumen nasional pada pagi ini. "Saya menyambut baik rangkaian rantai kebersamaan insan perbankan yang memperoleh rekor Muri ini, " kata Ibu Ani Bambang Yudhoyono dalam acara pembukaan sosialisasi edukasi perbankan, di Jakarta, Minggu (27/01). Acara ini juga dihadiri Ibu Mufidah Jusuf Kalla dan banyak direktur bank nasional. Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah pada sosialisasi edukasi perbankan di Jakarta, Minggu (27/01) mengatakan, edukasi perbankan sudah menjadi kebutuhan global. Program edukasi perbankan tahun 2008 menjadi penting bagi masyarakat Indonesia untuk lebih memahami produk perbankan. "Edukasi perbankan merupakan hal penting dan merupakan kebutuhan masyarakat Indonesia yang sedang berubah," ujarnya. Sebelumnya sejumlah negara di Asia, seperti China dan India sudah melakukan hal yang sama dalam memberikan edukasi bagi masyarakatnya di bidang perbankan. Terlebih pada Oktober 2008 nanti Indonesia menjadi tuan rumah konferensi internasional mengenai perlindungan nasabah. Pada acara yang sama Ibu Ani Bambang Yudhoyono mengakui masyarakat Indonesia masih sedikit yang melek bank. Hal ini disebabkan minimnya edukasi oleh pihak perbankan. "Masih banyak masyarakat Indonesia belum mengenal bank. Dengan program ini, saya berharap masyarakat bisa terdorong untuk mengenal bank," ujarnya. Menurut Ani, selama ini masih banyak anggota masyarakat terjebak dengan rentenir dan menyimpan uang di rumah, seperti di lemari dan lainnya. "Program edukasi perbankan ini sejalan dengan program Indonesia Pintar," imbuhnya. (J14,dtc-33) |