logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Januari 2008 BUDAYA
Line

Cultural Band

Ikhtiar Memasyarakatkan Musik Gothic

"GOTHIC itu unik dan menarik," ujar Cahyo sembari mengulas senyum. Gothic yang dia maksud adalah genre musik yang diusung grup band bentukannya, Cultural. Bersama Dypta (vokal), Anthony (gitar), Sanriest (bas), dan Wahyu (drum), pentolan grup yang juga memegang gitar dalam band tersebut, sedang getol-getolnya memasyarakatkan musik gothic. Band ini baru saja merilis album perdana yang diberi titel Hidup Tak Selamanya Indah.

Sederet promosi mereka persiapkan, termasuk melawat ke sejumlah daerah untuk mengadakan konser. Dua tembang andalan, " Tlah Berakhir" dan "Hidup Tak Selamanya Indah", telah pula mereka gadang-gadang untuk video klip hasil garapan Udin Kecil Production.

Rencananya kedua klip itu ditayangkan di televisi nasional bulan depan. Salah satu agenda pentingnya memasyarakatkan musik gothic. Maklum, telinga kita terlanjur akrab dengan pop, rock, jazz, reggae, dan dangdut. Seunik dan semenarik apakah musik gothic hingga Cultural begitu memujanya?

"Tidak tahu kenapa, setiap memainkan musik gothic kita selalu dapat soul-nya. Terlebih lirik lagu bikinan kita dan aransemen gothic bisa membuat kita semakin menemukan arti penting tentang kehidupan," ungkap Cahyo berdalih.

Bukan tanpa sebab jika tiba-tiba grup band asal Jakarta yang digawangi anak-anak Semarang ini begitu semangat mengobarkan panji-panji gothic dalam bermusik. Ikhtiar itu mereka awali pertengahan 2000.

Meski sempat bongkar pasang personel hingga enam kali, toh Cahyo tak patah arang. Mengawali karier dengan konser di beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Purwokerto, Purbalingga, Pekalongan, Tegal, Batang, dan Kudus, menjadikan Culutral banyak makan asam garam.

"Bahkan kita pernah tampil tanpa dibayar, malahan sering tombok. Tapi itu tidak apa-apa, demi idealisme kita bermain musik. Itu kami lakukan di awal-awal karier hingga 2004," ungkap Sanriest.

Hingga akhirnya kerja keras mereka membuah hasil. Setelah yakin akan kepiawaian masing-masing personel, mereka pun menawarkan karya mereka pada album indie label. Hasilnya, Cultural terlibat dalam album indie label Siksa Kekal yang dirilis tahun 2004. (Fahmi Z Mardizansyah-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA