| Sabtu, 26 Januari 2008 | PANTURA |
Perajin Logam Kurangi Produksi
TEGAL - Akibat kenaikan harga bahan baku dan kesulitan memperoleh minyak tanah, sejumlah perajin logam di Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal terpaksa mengurangi produksi. Bahkan, beberapa perajin lainnya terpaksa menutup usahanya. Salah seorang perajin logam di Kelurahan Kejambong, Kecamatan Tegal Timur, Salafudin (35) mengatakan, para perajin logam saat ini banyak yang mengurangi produksi. Hal itu terpaksa dilakukan, karena harga bahan baku naik dan minyak tanah yang digunakan untuk menyalakan batu bara sulit diperoleh. Menurut dia, untuk sekali mengecor dibutuhkan minyak tanah sekitar 30 liter. Pengecoran dilakukan setiap dua minggu sekali untuk logam sebanyak delapan ton. Karena minyak tanah langka, terpaksa membeli dari pengecer dengan harga antara Rp 3.000 hingga Rp 3.500 per liter. ''Dengan membeli secara eceran, minyak tanah yang diperoleh tidak bisa maksimal. Akibatnya, produksinya turun karena harus disesuaikan dengan ketersediaan minyak tanah,'' katanya. Kondisi demikian diperparah lagi dengan kenaikan harga bahan baku yang mencapai 30 persen. Menurut dia, kenaikan harga terjadi pada semua jenis logam. Harga logam kuningan naik dari Rp 40.000 menjadi Rp 42.000 per kilogram, alumunium naik dari Rp 16.000 menjadi Rp 20.000 per kilogram, dan besi cor naik dari Rp 3.700 menjadi Rp 4.500 per kilogram. Pengecoran Hal serupa juga disampaikan Ketua Koperasi Industri dan Kerajinan Tegalindo Kota Tegal, Fatchudin. Menurut dia, sebagian besar industri logam yang ada adalah industri pengecoran, sebagian lainnya industri pembubutan logam. Jumlahnya dulu mencapai ratusan unit usaha, namun saat ini yang masih berproduksi semakin sedikit. Dia mengatakan, untuk mencegah kerugian, pihaknya terpaksa menaikkan harga. Namun, hal itu menyebabkan jumlah pesanan berkurang. Biasanya, ketika kondisi normal ia mampu memproduksi 30 ton per bulan, namun saat ini hanya tinggal 15 ton per bulan. (H17-15) |