| Sabtu, 26 Januari 2008 | WACANA |
Mengandalkan Nilai RaporSULITKAH kuliah di luar negeri? Kualifikasi akademik yang dibutuhkan sebenarnya tak terlampau istimewa. Tak perlu suntuk belajar matematika. Juga tak wajib memiliki nilai ujian nasional (UN) yang tinggi. Materi tes yang diujikan untuk kuliah ke luar negeri hanya Bahasa Inggris. Sistem yang digunakan adalah IELTS (minimal 6) atau TOEFL (550). Untuk menakar kompetensi akademik digunakan acuan nilai rapor. Sekali lagi, nilai UN malah tak dijadikan kriteria. Mengapa nilai rapor kok dijadikan acuan? Menurut Gani Djuandi, piminan sebuah lembaga konsultan pendidikan, nilai rapor dianggap lebih konsisten dan ajeg dalam menakar kompetensi. Alasan yang masuk akal. Namun, bisa jadi, itu merupapakan taktik untuk mempermudah syarat masuk. Bukankah rentang nilai rapor antara sekolah yang satu dan sekolah lainnya terlampau lebar? Apabila Anda ingin mengambil strata-1 (S1), maka pendaftaran sudah dimulai sejak duduk di bangku kelas tiga SMA. Untuk jenjang S2, syaratnya adalah indeks prestasi (IP) ketika studi S1. Pendaftaran bisa dilakukan di kantor perwakilan atau konsultan yang bertebaran di berbagai kota besar, termasuk Semarang. Kelewat Mahal Seorang calon mahasiswa, Ronny Purwanto, mengaku sangat tertarik menempuh program master di Australia. Ia ingin merasakan pendidikan berkualitas global. ''Rencananya mau ambil S2 arsitektur di University of Western Australia,'' ujar mahasiswa tingkat akhir Universitas Parahyangan Bandung ini. Namun dia masih menimbang-nimbang, karena mahalnya biaya. Untuk jenjang S1, misalnya, biaya kuliah di kawasan Asia Pasifik setiap tahun sekitar 14.000 - 20.000 dolar AS, atau setara dengan Rp 132 juta hingga Rp 188 juta. Belum lagi biaya hidup di negeri orang yang kelewat mahal. Tiap bulan rata-rata membutuhkan dana 1.200 - 1.400 dolar AS, atau sekitar Rp 11 juta - Rp 13 juta. Jika dihitung tahunan, biaya hidup bisa mencapai Rp 132 juta - Rp 156 juta. Itu pun belum termasuk asrama serta pengeluaran lain. Misalnya pengurusan visa, transportasi, atau sewa internet. Kalau jenjang S1 diselesaikan dalam waktu 3,5 tahun, maka miliaran rupiah berpindah tangan ke negeri orang. Mahal? Tergantung sudut pandang siapa. Bagi pendamba kualitas, dan berkocek tebal, pendidikan merupakan investasi masa depan yang harus dikejar; semahal apa pun! Bagi yang skeptis, mungkin akan bertanya sehebat apa kualitasnya sehingga sampai menghabiskan duit miliaran rupiah. Yang perlu diingat, gelar mancanegara tak bisa digunakan di Indonesia sebelum disahkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas. (Panji Satrio-32) |