| Sabtu, 26 Januari 2008 | WACANA |
Kegelisahan Mahasiswa terhadap Pemimpin Bangsa
DUA tahun berturut-turut masyarakat Jateng akan ''disibukkan'' dengan dua perhelatan akbar seputar pemilihan pemimpin provinsi dan negara. Pertama, pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Tengah yang rencananya digelar 22 Juni 2008. Kedua, pemilihan presiden (pilpres) pada tahun berikutnya. Sebelum pilpres digelar, pada tahun yang sama, bakal dilakukan pula pemilihan umum legislatif (DPRD, DPR, serta DPD). Tulisan ini menyoroti pilgub dan pilpres saja, karena sifatnya lebih personal dalam konteks kepemimpinan. Karena waktunya semakin dekat, grengseng pilgub lebih terasa ketimbang pilpres. Para bakal calon gubernur (bacagub) pun sudah mulai bergerak untuk berlomba-lomba memikat hati masyarakat Jawa Tengah. Akankah ajang pilgub maupun pilpres melahirkan sosok pemimpin yang mampu menjawab segudang tantangan zaman yang makin berat? Khususnya menjawab tuntutan reformasi yang digelorakan para mahasiswa sejak 1998, namun tak kunjung terpenuhi hingga kini. ''Meski dikatakan era reformasi, para pemimpin bangsa tetap saja tidak mampu me-menuhi kebutuhan rakyat. In-donesia masih mengalami krisis kepemimpinan,'' kata Gigih Pribadi, mahasiswa Undip yang juga ketua Biro Politik KNPI Cabang Semarang. Reformasi Kedua Secara gamblang, anggota Diponegoro Media Watch ini berharap terjadi reformasi kedua, sehingga melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat, mempunyai daya intelektual dan pemikiran inovatif. Hal senada terlontar dari Tri Hartanto, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Reformasi memang melahirkan sistem baru, yang cocok untuk memulai perbaikan yang diinginkan. ''Tapi sistem baru yang mulai baik itu tak diimbangi dengan komitmen, kemandirian, dan kolektivitas para pe-mimpin bangsa, untuk mengentas negara ini dari semua persoalan mendasar,'' tutur menteri luar negeri pada Ba-dan Eksekutif Mahasisa (BEM) Unnes ini. Dia berharap, ajang pilgub dan pilpres tak hanya melahirkan pemimpin yang pintar berjanji pada saat kampanye, baik kepada calon pemilih maupun partai-partai yang mengusung pencalonannya. ''Mereka harus amanah, termasuk terhadap janji-janjinya selama kampanye. Selain itu, bisa melepas tarikan-tarik-an parpol dan kelompok tertentu, sehingga lebih mengedepankan kepentingan rakyat''. Kalangan Muda Sedangkan Wakil Presiden Mahasiswa Unika Soegijapranata, Poncorini, berharap pilgub dan pilpres dapat melahirkan pemimpin dari kalangan muda. ''Perlu kaderisasi pemimpin, untuk mengangkat lagi negeri ini,'' ujar mahasiswi arsitektur ini. Pendapat ini diamini Ma-thori, staf Kajian Strategis BEM Undip. Kalau menghendaki perubahan, maka orang-orang lama harus benar-benar dirombak. ''Percuma dikatakan reformasi, jika masih didominasi orang-orang lama,'' jelasnya. Menurut Mathori, masyarakat sangat membutuhkan pemimpin yang dapat menjadi sumber inspirasi. Pemimpin yang mampu memberikan arah dan prioritas jelas, bukan sekedar pemimpin yang kuat dan berwibawa, apalagi sekadar popular. ''Memang diperlukan terobosan, termasuk mengambil risiko-risiko politik, demi membawa bangsa ini keluar dari bayang-bayang krisis. Dan kaum mudalah yang mampu melakukan itu semua,'' tegasnya, optimistis. (Dela Sulis-tiyawan Yunior-32) |