logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Januari 2008 WACANA
Line

Lambaian Tangan Singa dan Kanguru

Perguruan tinggi di Singapura dan Australia kian agresif membuka pasar di Indonesia. Syarat masuk hanya kemahiran berbahasa Inggris. Nilai ujian nasional sama sekali tak menjadi kriteria.

AGRESIVITAS perguruan tinggi asing dalam membuka ceruk pasar di Indonesia, khususnya di Kota Semarang, bisa ditengara dengan mudah. Medio Januari ini, ha-nya dalam rentang waktu dua pekan, telah digelar lima pameran pendidikan internasional.

Namanya juga pameran internasional, tentu digelar di hotel-hotel berbintang. Hebatnya, kelima ajang pameran ini tetap disesaki pengunjung. Belum lagi biro promosi yang blusukan langsung ke sekolah-sekolah swasta nan kaya.

Mustahil datang semut kalau tidak tersedia rasa manis. Mereka datang berpromosi ke Kota ATLAS, karena peluang pasarnya memang besar. Animo kuliah ke mancanegara yang tinggi tergambar dari suasana pameran yang penuh sesak oleh pengunjung.

Stan pameran didominasi konter kampus dari negeri jiran seperti Australia, Singapura, dan Malaysia. Hanya sedikit yang berasal dari Eropa atau Amerika Serikat. Namun hampir seluruhnya merupakan perguruan tinggi swasta.

Seberapa banyak mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di luar negeri? Beberapa ''perwakilan'' perguruan tinggi asing menjawab: pokoknya banyak. ''Jadi, jangan khawatir kuliah di kampus kami, karena di sana sudah banyak temannya''.

Data statistik yang dioplos dengan promosi tentu kurang menjamin akurasinya. Seorang konsultan menyatakan, setiap tahun setidaknya 18.000 mahasiswa Indonesia menempuh studi di Australia.

Peran Broker

Tingginya animo kuliah di luar negeri dimungkinkan karena masyarakat makin menyadari pentingnya membekali diri dengan pendidikan berkualitas. Selain itu, otomatis mengasah kemampuan berbahasa Inggris. Namun keberhasilan Austalia dan Singapura dalam menggaet mahasiswa asing tidak bisa dilepaskan dari peran lembaga konsultan pendidikan. Lembaga ini bisa berperan ganda.

Pertama, membimbing calon mahasiswa untuk menempuh studi di luar negeri, dengan memberikan referensi pilihan kampus dan program studi, cara mendaftar, perkiraan biaya kuliah dan biaya hidup, mencarikan asrama, hingga membantu pengurusan visa.

Kedua, konsultan ini sekaligus berperan sebagai broker alias perantara. Sebab mereka bukan sekadar mempromosikan, namun juga me-nyelenggarakan tes masuk. Para broker menjadi jembatan antara calon mahasiswa dan kampus asing.

Calon mahasiswa tak perlu datang langsung ke luar negeri untuk mencari kampus idaman. Cukup datang ke konsultan dan melihat-lihat brosur. Jika cocok tinggal pilih. Sebaliknya, pihak kampus tak mengirim tim promosinya ke negara sasaran. Cukup memberi mandat kepada broker.

Globalisasi pendidikan adalah bisnis besar. Industri pendidikan menyumbang banyak devisa bagi negara-negara maju. Berdasarkan statistik yang dirilis Departemen Luar Negeri AS, negara adidaya ini dihuni sekitar 550.000 mahasiswa asing, yang mampu menyumbang devisa hingga 25 persen dari total pendapatan nasional bruto.

Mahasiswa asing juga banyak dijumpai di Inggris (300.000 orang), Prancis (250.000), Jerman (250.000), dan Australia (175.000). Negeri Kanguru ini memiliki jumlah mahasiswa asing terbanyak di antara negara-negara Asia Pasifik lainnya.

Geliat Singapura

Keberhasilan Australia dalam memasarkan industri pendidikan tak lepas dari peran IDP Education. Lembaga ini punya kantor perwakilan di 50 negara, yang menjadi agen bagi 300 institusi pendidikan. Di Indonesia, mereka memiliki empat perwakilan, yakni Jakarta, Bandung, Semarang, dan Makasar.

Singapura tak tinggal diam saat melihat Australia lahap menikmati kue devisa itu. Melalui Singapore Education Services Centre (SESC), negeri ini mulai menggeliat dan makin agresif membuka pasar di Indonesia.

Menurut Asisten Manajer SESC, Tri Turturi Meswary, lembaganya bernaung di bawah Departemen Pariwisata.

''Kami bertugas mempromosikan industri pendidikan Singapura ke seluruh dunia,'' ujarnya saat ditemui dalam sebuah ekspo pendidikan di Semarang.

Benarkah kampus asing selalu berkualitas? Sejatinya, ini ibarat membeli kucing dalam karung. Kalau cuma mendengar penuturan sales atau memnaca brosur, mustahil bisa menelisik kualitasnya. Bahkan, belum tentu mutu kampus yang dipamerkan itu lebih bagus daripada UKSW, Udinus, Unika Soegijapranata, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Kapan industri pendidikan Indonesia bisa dijual ke mancanegara untuk meraup devisa? Pangkal persoalan tampaknya bukan pada kualitas produk, namun karena tak adanya konsultan pendidikan (broker) yang melakukan promosi ke luar negeri. (Panji Satrio-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA