logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Januari 2008 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Di Mana-mana Sadar Hijau

Kesadaran untuk menggalakkan penghijauan oleh berbagai elemen masyarakat, merupakan kerucut perjalanan merespons fakta-fakta yang kini sudah dirasakan bersama. Fakta itu berupa akibat dari ketidakhijauan atau hilangnya kehijauan, yang berakumulasi pada realitas ketidakseimbangan lingkungan. Persoalan tata ruang karena tuntutan penggunaan dalam kompetisi ekonomi memunculkan kenyataan ketidakterkendalian, yang dalam banyak hal sulit dijangkau regulasi dan hukum. Kekarutmarutan tata ruang makin menumpuk, lalu menjadi penyumbat ketika kita bermaksud keluar dari masalah lingkungan.

Kini, insan pers pun tergerak untuk memberi kontribusi nyata dalam menyemai keseimbangan ekologis. PWI Jawa Tengah dengan sejumlah mitra kerjanya dalam rangkaian Hari Pers Nasional 2008, Minggu besok akan mengadakan gerakan menanam pohon yang dipusatkan di Telaga Menjer, Kecamatan Garung, Wonosobo. Sebanyak 22 ribu bibit pohon akan ditanam di sekitar telaga yang berketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut itu. Sekitar 2.000 warga masyarakat juga dilibatkan untuk menanam pohon pinus, suren, bentami, akasia, dan karet. Kegiatan tersebut memuat nilai momentum, publikasi, dan dorongan.

Kita sudah seringkali menekankan lewat ruang editorial ini, betapa penting memobilisasi kesadaran seluruh elemen masyarakat agar menjadi bagian dari stakeholder lingkungan. Hal terpenting di tengah ketelanjuran terjadinya kerusakan di banyak sektor ekologis adalah menanam kesadaran sejak dini, misalnya lewat anak-anak sekolah mulai dari level pendidikan prasekolah. Banyak cara bisa dilakukan, dari yang bersifat edukatif untuk menginternalisasikan nilai-nilai cinta dan sadar pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan, hingga yang bersifat preventif dengan membangun kesadaran hukum masyarakat.

Ketelanjuran rusaknya areal hutan karena penebangan liar, sungai-sungai yang kehilangan daya akomodasinya, areal parkir air di daerah perbukitan dan kawasan kota bawah yang makin bermasalah, merupakan gambaran dari akibat-akibat yang telah memicu percepatan kekarutmarutan lingkungan. Banjir, kekeringan, dan tanah longsor adalah tiga jenis bencana yang terus menerus terjadi belakangan ini, yang tidak mungkin tidak terkait dengan rendahnya mutu akomodasi lingkungan. Penanaman pohon menjadi salah satu representasi repons bervisi masa depan yang dilakukan oleh elemen-elemen cinta lingkungan.

Sifat seremonial gerakan penanaman pohon memang berkesan represif, namun itulah pilihan langkah minimalis yang bisa dilakukan. Kalau substansi momentum, publikasi, dan dorongan itu bisa terjaga untuk membangun kesadaran bersama, maka yang harus terus dikerjakan adalah memelihara konsistensi, dengan stamina tinggi kampanye lingkungan. Media massa berada pada peran sebagai pendorong untuk menciptakan determinasi rehabilitasi lingkungan. Posisi strategis itulah yang kiranya penting untuk ditangkap lewat ruang kemitraan oleh para pemangku hutan, yakni Dinas Kehutanan dan Perum Perhutani.

Gerakan membangun hutan rakyat kini dikoordinasikan secara sistematis oleh Perhutani dengan memberi proyeksi harapan bagi masyarakat desa sekitar hutan. Kesadaran menjaga sungai-sungai dan tempat penampungan air yang berkualitas dengan topangan eksistensi pepohonan harus didorong menjadi gerakan rakyat. Kita berharap, kesadaran di mana-mana untuk menanam pohon, serta menghijaukan kembali lahan-lahan kritis dapat dijaga kosistensi dan peningkatannya. Terlepas dari semua itu, komitmen penegakan hukum untuk menjaga kehijauan hutan juga merupakan kunci untuk membangun sikap preventif.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA