| Sabtu, 26 Januari 2008 | WACANA |
TAJUK RENCANATetap Waspada dan Berhati-hatiAwal pekan ini harga saham di semua bursa berguguran. Selasa lalu, indeks di kawasan Asia Pasifik, misalnya, ditutup melemah 4%-8%. Perdagangan saham di bursa Mumbai dihentikan karena penurunan indeksnya terlalu dalam. Indonesia juga tak luput dari fenomena tersebut. Indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah 7,6% atau 191 poin menjadi 2.294,5. Pada pertengahan sesi perdagangan angkanya menyentuh 10%. Kontan keadaan itu mengembalikan ingatan kita ke tahun 1996-1997 saat krisis moneter yang menjadi titik awal krisis ekonomi dan krisis-krisis lain melanda negeri ini. Ada semacam trauma! Gejolak pasar keuangan dunia berawal dari Amerika Serikat, yang dari data tingkat pengangguran, penjualan ritel, dan inflasi dinilai buruk pada awal tahun ini. Makin banyaknya penganggur menyebabkan kian sedikit warga AS yang berbelanja. Ditambah angka inflasi yang tinggi membuat harga barang-barang bertambah mahal. Negara-negara pengekspor ke AS khawatir volume penjualan dan pendapatannya juga akan turun. Logikanya, kecil kemungkinan investor memeroleh dividen, sehingga makin kecil pula potensi kenaikan harga saham. Akhirnya banyak saham yang dilepas karena takut harganya terus meluncur. Perekonomian AS yang memburuk dan cenderung menuju ke arah resesi juga dipicu oleh kasus kredit perumahan berisiko tinggi atau subprime mortgage yang macet. Banyak perusahaan finansial kelas dunia yang memiliki aset berbasis kredit tersebut rugi besar. Ketika bursa dunia berguguran, bank sentral The Federal Reserve mengambil kebijakan memangkas suku bunga 75 basis poin menjadi 3,5%. Itu angka terbesar dalam sejarah bank sentral Amerika sebagai langkah paling dramatis untuk menyelamatkan ekonomi. Dampaknya segera terasa, yakni indeks bursa saham dunia kembali menguat pada hari berikutnya. Bank Indonesia (BI) menyambut baik langkah The Fed. Di samping kembali mengangkat transaksi di pasar modal, kebijakan tersebut menimbulkan ekspektasi yang lebih optimistis. Gubernur BI Burhanuddin Abdullah yakin gejolak di pasar finansial global akan segera pulih. Namun gejolak ekonomi global, khususnya di AS tetap harus diwaspasdai karena diperkirakan akan berlangsung dalam waktu lama. Indonesia pasti akan terkena dampak gejolak global tersebut. Saat ini yang bisa dilakukan adalah bagaimana agar dampak itu bisa diperkecil. Kita tentu tidak ingin bayang-bayang krisis ekonomi jilid kedua menjadi nyata. BI berkomitmen menjaga rupiah agar tidak terpuruk. Meskipun tidak menargetkan rupiah pada posisi tertentu, volatilitas kurs selalu dijaga. Otoritas moneter memiliki cukup cadangan devisa, yakni 58 miliar dolar AS lebih, untuk intervensi pasar jika diperlukan. Walaupun gejolak pasar finansial sudah bisa diredam, bukan tidak mungkin akan terjadi lagi. Namun andai resesi di AS tak terhindarkan, dampak bagi Asia - termasuk Indonesia - diperkirakan tak terlalu besar. Ekspor kita ke AS kecil dan eksportir bisa mencari alternatif tujuan ekspornya. Yang terjalari adalah negara-negara yang punya hubungan bisnis dan investasi secara langsung. Apa pun yang terjadi, pemerintah dan BI perlu terus mencermati tiap gejala sebagai persiapan untuk mengambil kebijakan yang tepat. Ekonomi global masih diwarnai ketidakpastian, tetapi yang melegakan adalah sentimen investor internasional terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap baik. Hasil jajak pendapat ING Securities terhadap 1.311 responden di 13 negara Asia menyebutkan, pasar modal Indonesia akan tetap bergairah. Sektor-sektor yang berkembang pesat seperti infrastruktur, properti, dan keuangan membuat investor yakin. Itulah yang perlu dijaga, selain terus berhati-hati dan waspada. |