| Sabtu, 26 Januari 2008 | MURIA |
Pengusaha KerupukHarapan untuk Terus Bertahan Tipis
KENAIKAN beberapa bahan pokok dan bahan pembuat kerupuk, seperti minyak tanah, miyak goreng, dan tepung, membuat sebagian pengusaha kerupuk terus mengubah strategi untuk terus berproduksi. Salah seorang di antaranya Sarwan (50), warga Desa Ploso, Kecamatan Jati. Berbagai cara telah dia lakukan demi mempertahankan usahanya. Belakangan ini, dia harus menanggung biaya produksi yang tinggi. "Sampai sekarang saya hanya bisa bertahan, menghadapi harga bahan baku kerupuk yang semakin mahal," ujarnya, Jumat kemarin. Dia menuturkan, minyak tanah yang semula Rp 2.270 - Rp 2.700 per liter, di pasaran kini hingga Rp 3.000. Minyak goreng menjadi Rp 10.000 per liter dan gandum Rp 156.000 per sak dengan berat 25 kg. Dalam sehari, dia membutuhkan 400 kg. "Dengan harga bahan baku seperti itu, tentunya tidak sebanding dengan biaya produksi yang semakin tinggi, ditambah upah karyawan yang juga ikut naik dari tadinya Rp 15.000 per hari menjadi Rp 20.000," ungkapnya. Demikian pula dengan harga kerupuk yang juga dijualnya juga dinaikkan, dari sebelumnya per karung Rp 40.000, kini menjadi Rp 50.000. Bertahan Sampai saat ini, yang dia lakukan hanya bertahan dengan terus memproduksi kerupuk. Karena beberapa pembeli yang rata-rata pelanggan tetap, sudah memesan jauh-jauh hari. "Sayang jika harus berhenti karena para pelanggan sudah telanjur memesan." Bahkan beberapa waktu lalu, saat minyak tanah langka, dia mengganti bahan bakar kompornya dengan irex (jenis campuran solar) yang dibelinya eceran Rp 15.000 per liter. Setiap harinya dia menghabiskan 40-80 liter. "Saya tinggal menunggu waktu saja dan belum tahu apa yang akan dikerjakan. Menutup atau melanjutkan, usaha kerupuk ini?" Untuk mempertahankan usahanya itu, dia rela menjual mobil kesayangannya Rp 58 juta. Ini semata-mata dipakai untuk bertahan agar terus berproduksi. Harapannya untuk terus berproduksi sangat tipis. Bahkan dia mengaku, jika kondisi seperti ini terus, hanya mampu bertahan sekitar tiga sampai empat bulan. (J18-69) |