| Sabtu, 26 Januari 2008 | MURIA |
Pencegahan DBD Diminta Masuk Kurikulum SekolahBLORA - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora Henny Indriyanti mengharapkan para kepala SD memasukkan materi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dalam mata pelajaran Kesehatan Jasmani. Tujuannya agar para siswa memahami seluk beluk penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan cara pencegahannya. Usulan tersebut disampaikan Henny saat menjadi pembicara sosialisasi pencegahan DBD yang diikuti para kepala SD se-Kecamatan Blora di Wisma Pratama kemarin. Dia menyatakan, guru perlu berperan serta menyosialisasikan pencegahan DBD kepada para siswanya. Alasannya, terkadang siswa lebih mematuhi perintah guru. "Anjurkan para murid memantau jentik nyamuk di rumahnya masing-masing," ujarnya. Henny mengatakan, berbagai kegiatan yang bisa dilakukan sekolah mencegah DBD di antaranya melakukan PSN melalui gerakan 3 M yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk. Kegiatan tersebut hendaknya secara serentak dan rutin setiap pekan di sekolah masing-masing. "Lingkungan yang kotor sangat disukai nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue penyebab DBD," tandasnya. 60 Penderita Berdasarkan data dari Dinkes hingga pekan ketiga Januari, telah terjadi sebanyak 60 kasus DBD. Mayoritas penderitanya adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun. Dari 60 kasus tersebut, sebanyak 58 penderita berhasil disembuhkan. Namun, dua penderita lainnya meninggal dunia. Jumlah penderita terbanyak berada di Kecamatan Blora (13 kasus), Tunjungan dan Kedungtuban masing-masing 8 kasus. Dari 16 kecamatan di Blora hingga kemarin hanya tujuh kecamatan yang belum ada warganya terkena DBD. Yakni Kecamatan Bogorejo, Kunduran, Todanan, Sambong, Jati, dan Kecamatan Randublatung. "Jika mendapati penderita DBD, segeralah bawa ke dokter," pinta Henny. (H18-54) |