| Sabtu, 26 Januari 2008 | SEMARANG |
"Cilik Konco Playon, Gede Kok Mateni"BEGITU Herwin, Yuli Purwanti, dan Baskoro, dikeluarkan dari mobil polisi, ratusan warga yang berkerumun di pintu gang menuju rumah Jumali, segera berseru. Macam-macam celotehnya. Ada yang kasar dan memaki-maki. Ada pula yang berteriak histeris. "Hu...," teriak warga nyaris bebarengan. "O, iki tho wonge, penthungi bareng-bareng rak wes (O, ini ya orangnya, pukuli ramai-ramai saja-Red)," ujar seorang pria berperawakan gempal. "Kuwi Yuli tho. Cilik konco playon, gede kok tegel mateni (Itu Yuli kan. Kecil temen bermain besarnya kok tega membunuh-red)," timpal seorang ibu muda. Beragam kalimat dilontarkan warga. Semuanya bernada geram dan marah ketika melihat ketiga tersangka hendak melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan yang terjadi Minggu (6/1) itu. Bahkan, beberapa warga bermaksud menghakimi Herwin, Yuli, dan Baskoro. Beruntung, petugas Gabungan Unit Jatanras, Dalmas Polwiltabes Semarang, dan Dalmas Polresta Semarang Barat, sudah mengantisipasi adanya kericuhan. Warga mengaku gethem, lantaran tersangka dianggap begitu sadis membunuh Jumali dengan cara menembak di bagian jidat dan membakar tubuhnya hidup-hidup. Terlebih, aksi pembunuhan itu dilakukan di hadapan ketiga anak korban. Ela Widiana (Ila) dan Ifa Dwiyana (10) melihat dengan kepala mata saat bapaknya meregang nyawa. Bahkan, anak bungsu korban, Rafel Hadinata (7 bulan) kini dirawat itensif dan kemarin dioperasi wajahnya lantaran turut ikut terbakar. Beberapa jam sebelum dilakukan rekonstruksi, ratusan warga terlihat nyanggong di mulut gang. Puluhan lainnya berdiri berjejer di sepanjang jalan masuk menuju rumah korban. Polisi sudah mengantisipasi jauh-jauh hari agar rekonstruksi berjalan lancar. Puluhan petugas Dalmas, disiagakan di jalan menuju rumah korban. Melayangkan Tinju Toh demikian, polisi sempat kecolongan ketika dua orang warga tiba-tiba melayangkan tinju ke arah wajah Herwin dan Baskoro. Itu terjadi ketika usai rekonstruksi. Saat berjalan dengan kawalan ketat polisi, tiba-tiba ada seorang pria berusaha mendekati Herwin. Pria yang memakai kaus warna merah itu langsung meninju wajah Herwin. Tentu saja, polisi segera mengamankan pria tersebut dan langsung membawa lari Herwin. Hal serupa juga terjadi saat polisi mengawal Baskoro keluar dari rumah korban. Seorang pria tahu-tahu memukul tengkuk Baskoro. Namun peristiwa yang lebih parah dapat diredam polisi yang bertugas mengamankan jalannnya rekonstruksi. Terlebih, Kasat Reskrim Polwiltabes Semarang AKBP Agus Rohmat SIK SH MHum yang memimpin rekontruksi, mengintruksikan untuk bertindak tegas demi mengamankan tersangka dan jalannya rekonstruksi. Sebelum berangkat ke rumah korban, puluhan anggota dikumpulkan untuk dibriefing di Mapolwiltabes. "Kita sudah mengantisipasi kalau-kalau terjadi hal yang tidak kita inginkan. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar," kata Agus Rohmat. Sementara itu, usai rekonstruksi, Ila dan Ifa menulis dalam supucuk surat berisikan unek-unek mereka terhadap aksi tersangka yang tega membunuh bapaknya. "Ila dan Ifa mengimbau pihak kepolisian agar menghukum pelaku pembunuh bapakku dan menyakiti adikku Rafael dengan hukuman setimpal. Saya pikir karena mereka tega membunuh orang, hukuman yang setara bagi mereka adalah hukuman mati..." Surat tersebut tertanda Ila dan Ifa. (Fahmi ZM, Adi Prianggoro, Riyono Toepra-56) |