| Sabtu, 26 Januari 2008 | SEMARANG |
Pelajar dan Mahasiswa Saatnya Kenal PolitikSEMARANG- Politik yang selama ini dikenal pelajar maupun mahasiswa dalam bentuk teori, sudah selayaknya bisa dipraktikkan dalam pembelajaran sehari-hari. Pelajar dan mahasiswa bisa mengetahui seluk-beluk peta politik sesungguhnya, tanpa harus terjun langsung dalam politik praktis. Pembina Kesatuan Mahasiswa dan Pelajar Perjuangan (KMPP) Jateng, M Ridwan menyatakan, masih ada sebagian orang yang menganggap tabu masalah politik. Akibatnya, belajar politik di sekolah maupun perguruan tinggi dianggap sesuatu yang belum saatnya. ''Kenal itu kan bukan berarti pelajar maupun mahasiswa harus terjun ke politik. Setidaknya, teori politik yang selama ini didapatkan di kelas, bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dengan ikut organisasi,'' tandas dia kepada wartawan, usai pelantikan Dewan Pengurus Sektor di empat perguruan tinggi di Gedung Juang, Kamis (24/1). KMPP Jateng sekarang ini telah membentuk empat sektor perwakilan di empat perguruan tinggi. Masing-masing, Dewan Pengurus Sektor (DPS) IKIP PGRI Semarang, IAIN Walisongo, Unissula dan Untag. Diskusi Di sela-sela pelantikan DPS, KMPP Jateng menggelar diskusi menghadirkan narasumber seperti Prof Dr Mujiono Abdillah (IAIN Walisongo), A Zaini Bisri (Redpel Suara Merdeka), Amirudin (Wakil Ketua KPID Jateng). Mujiono mempaparkan, mahasiswa maupun pelajar selain bisa berpolitik juga diharapkan mampu menyelaraskan dengan lingkungan. Mahasiswa jangan sampai menjadi manusia-manusia perusak lingkungan. Karena bagaimana pun mahasiswa dan pelajar adalah manusia sangat bergantung pada alam. Zaini Bisri menuturkan, media berperan penting dalam pendidikan politik bagi pemuda. Media, sebagai bagian dari kelompok kepentingan dapat mempengaruhi opini masyarakat dan keputusan pemerintah. Karena itu, media sering dikatakan telah menggeser peran parpol karena situasi anomali, di mana parpol sebab belum mampu menjalankan fungsinya. Sementara Amirudin menilai, masyarakat sekarang ini cenderung memilih tokoh progresif ketimbang konservatif. Siapakah tokoh progresif itu? Publik sudah menaruh respek terhadap tokoh-tokoh berusia muda mulai tampil memimpin negeri ini. (H37,H7-56) |