| Jumat, 25 Januari 2008 | WACANA |
Surat PembacaBatas Toleransi Muatan 50%Saya sangat prihatin dengan adanya kesepakatan 8 provinsi yang memberi batas toleransi terhadap muatan truk yang melintas di jalanan hingga 50% dari batas normal. Hal tersebut merupakan kebijakan yang merugikan masyarakat dan pengguna jalan lain, keselamatan serta nyawa di jalan tidak dihargai mengingat kondisi jalan dan kendaraan kurang layak bahkan tidak layak. Kalau truk dipaksa dengan muatan melebihi batas normal, bagaimana jalan tidak cepat rusak?. Apa fungsi jembatan dan sebatas apa tanggung jawab pengambil keputusan bila terjadi kecelakaan. Padahal keputusan tersebut bertentangan dengan Perda No 4/2001, tentang tertib pemanfaatan jalan dan pengendalian kelebihan muatan dengan batas toleransi 30%. Dengan Perda No 4/2001 saja sudah membahayakan, sekarang ada kebijakan baru dari DLLAJ bahwa batas toleransi muatan sampai 50%. Hukurn dan peraturan yang ada memang serba membingungkan, keputusan/peraturan yang dikeluarkan antarinstansi saling bertentangan, membuat peraturan sendiri serta mengesampingkan koordinasi maupun dampaknya. Akhirnya masyarakat yang selalu dirugikan dengan kompromi yang berujung pada pungli dan korupsi. Sadarlah para pengambil keputusan, nasib negeri ini tergantung kepada pemimpinnya. Kalau keputusan dan peraturan yang dihasilkan selalu membingungkan dan merugikan, ke mana lagi masyarakat harus mengadu. Peraturan tersebut hanya satu dari sekian banyak keputusan di negeri ini yang saling bertentangan dengan peraturan yang sudah ada. Seharusnya tidak zamannya lagi ada keputusan/peraturan yang selalu tumpang-tindih. Kapan pengambil keputusan berpihak kepada masyarakat kecil, jangan berpihak kepada orang-orang tertentu saja. Muhamad Asro'i Perum GKI Jl Anggrek I/6 Kajen, Pekalongan Data BPS dan Pemerintah Belum lama ini Wapres Jusuf Kalla mengatakan capai melihat tayangan teve tentang kerusuhan. Katanya tiap hari ada berita kerusuhan dari berbagai daerah. Beliau mengharap kalau sifatnya lokal ya disiarkan lokal saja tidak perlu secara nasional. Bukan wapres saja yang capai melihat terjadinya kerusuhan, namun hal ini pernah saya tulis di rubrik ini. Tiada hari tanpa kerusuhan, tanpa bentrok antarkelompok, kampung, pendukung pilkada, beda pendapat agama, kader partai yang sama, pedagang-Satpol PP, polisi dengan korban gusuran, antarmahasiswa, antarpelajar dan lainnya. Biang keroknya?. Iblis demokrasi liberal yang sudah mengubur demokrasi Pancasila di gedung parlemen. Kecapaian Wapres bertolak belakang dengan penilaian organisasi dunia yang baru-baru ini memberikan penghargaan Democraty Award kepada Presiden SBY. Artinya, rajanya demokrasi liberal senang melihat Indonesia rusuh terus. Beda JK, beda SBY yang heran pada tayangan iklan ketua Partai Hanura Wiranto. Wiranto yang juga bekas panglima TNI ini mengutip penilaian Bank Dunia bahwa di Indonesia masih ada 49% rakyat miskin. Kata SBY data yang benar data dari BPS adalah 19,6% artinya dari 7 orang, hanya 1 orang yang miskin. Sudah sejak zaman Orba, data BPS terkait bidang ekonomi selalu bertentangan dengan data dunia atau independen dalam negeri. Badan Pusat Statistik dengan mudah memenuhi pesanan pemerintah, seperti dulu dinyatakan Indonesia sudah bebas buta huruf, tapi apa faktanya? Buat rakyat tidak pernah pusing dengan angka penelitian sebab rakyat punya mata untuk melihat kenyataan. Zaman Orde Baru praktis tidak ada kerusuhan kecuali di Aceh. Tapi tidak setiap hari ada kerusuhan dan efeknya tidak meluas ke masyarakat. Sekarang setiap hari ada kerusuhan yang menjadikan hidup selalu waswas, tidak tenteram. Dulu tidak pernah ada antre minyak, sekarang selalu bergantian lancar di satu daerah, antre di lain daerah seolah ada aktor intelektual yang mengaturnya agar rakyat selalu hidup compang-camping. Di Jakarta ratusan ribu mobil macet di jalanan setiap hari, di saat yang sama ratusan ribu rakyat pontang-panting dihantam banjir. Kapan berakhirnya semua kontroversi dalam kehidupan masyarakat ?. Rakyat hanya berharap para pemimpin tidak menjadi wayang yang dimainkan oleh dalang bule. Tapi berani berkata, pergi dengan bantuanmu dan penghargaanmu. Rakyat hanya berharap para pemimpin tidak merealisasi ramalan Ronggowarsito dengan "zaman edan"-nya tapi mengusahakan dengan kerja keras agar "zaman edan" itu terjadi pada tahun 2030 untuk warisan anak cucu. Selamat tahun baru 2008 Indonesia pasti jaya. Sudarjo Jl S Parman 61, Purwokerto *** Makan di RM Noroyono Tanggal 13 Januari 2008 saya mengikuti seminar "Motivasi Bisnis dan Pengobatan Islami ala Nabi" yang diadakan oleh jaringan MLM Syarfah Herba Penawar Alwahida (HPA) di RM Noroyono Jl R Suprapto Purwodadi. Panitia menyediakan makan siang dengan menu ayam bakar dalam kotak. Ada kejadian "mengerikan" ketika saya makan menu yang disediakan rumah makan tersebut. Ketika sedang makan, salah seorang teman mendapati selonjor isi staples yang masih utuh persis di samping nasinya. Saya kira hal itu merupakan kecerobohan yang pantas mendapat perhatian. Jangan sampai kejadian ini terulang dan untung isi staples itu tidak di dalam nasi sebab bisa membahayakan bila ikut termakan. Seorang teman berseloroh: "Ini menandakan menu yang benar-benar spesial, karena salah satu lalapannya isi staples". Mendatang kejadian seperti itu jangan terulang dan kepada pihak pengelola rumah makan mohon betul-betul menekankan kehati-hatian dalam bekerja bagi seluruh karyawannya. Muchlisin Jl M Kurdi 27 RT 9/RW 2 Bugel, Godong *** Kecewa dengan Pelayanan Air Asia Pada 2 Januari 2008 saya, anak (6) dan suami berangkat dari Kuala Lumpur tujuan Solo dengan penerbangan Air Asia Ak 994 R 03 pukul 16.10 waktu Malaysia. Sepanjang perjalanan anak saya mau buang air besar. Setelah saya dudukkan di toilet dan menutup pintunya saya tunggu di luar karena memang toiletnya kecil. Kemudian ada air keluar melalui bawah pintu toilet hingga saya terkejut. Saya buka pintu dan ternyata anak saya waktu buang air besar juga buang air kecil. Dua pramugari yang kemudian datang malah marah dan tidak mau membersihkan air kencing yang keluar dari toilet. Saya katakan tidak keberatan membersihkan air kencing anak saya. Tapi jangan marah di depan banyak penumpang dan anak. Toh hal yang terjadi tersebut bukan kesengajaan dari anak berusia 6 tahun. Pramugari tersebut tidak pernah sedikit pun merasa kalau sudah bertindak kasar. Hanya menonton saja saat saya membersihkan dan mengepel lantai pesawat. Dengan pengalaman ini saya kecewa atas pelayanan pramugari Air Asia. Saya imbau pembaca berhati-hati mungkin hal ini bisa terjadi pada orang lain. Khusus untuk Air Asia bisakah memberi pelatihan kepada personelnya agar lebih sopan dalam penyampaian masalah. Atau kalau ada hal yang merasa tidak bisa lakukan, misal membersihkan air kencing anak berusia 6 tahun. Inge Wibowo Jl Gatot Subroto Blok V/20, Semarang *** Koreksi Hasil Tes Sebagai orang tua yang memperhatikan pendidikan, setiap hari saya selalu membimbing anak belajar. Di samping itu setiap kali menerima hasil tes, saya selalu mengoreksi kembali baik tes mid semester maupun semesteran sehingga kalau ada jawaban yang seharusnya betul tetapi disalahkan maka segera mengetahui. Selama ini yang mengoreksi hasil tes adalah guru kelas atau guru pengampu mata pelajaran. Tetapi, saya terkejutnya ketika diberitahu seorang guru bahwa selama ini yang mengoreksi hasil tes adalah para murid kelas 6. Padahal hasil tes sebagai penentu nilai di rapor, di samping nilai harian dan ulangan. Saya heran apakah memang seperti itu kinerja guru, kok berbeda dengan guru zaman dulu yang benar-benar mengutamakan profesi. Bagaimana dengan kewajiban dan tanggung jawab profesi. Giliran mengoreksi hasil tes yang notabene tanggung jawab dan tugasnya malah menyerahkan ke muridnya. Kalau hasil tes dikoreksi kakak kelas, apakah ada jaminan dapat melakukan secara tepat dan teliti. Kalau banyak jawaban benar tetapi disalahkan, siapa yang bertanggung jawab. Saya bisa berkata demikian karena sejak anak saya kelas satu, sering menemukan jawaban tes yang benar tetapi disalahkan. Akibatnya anak dirugikan akibat nilai yang berkurang. Ketika ada yang tanya ke gurunya, malah si guru berkelit bahwa itu sesuai kunci jawaban tanpa mau mengakui kesalahannya. Ada juga yang kemudian membetulkan tanpa mengubah nilai tes. Bukankah sudah menjadi keharusan kalau siswa menanyakan haknya. Kalau sudah begini, kasihan anak yang benar-benar belajar dan dapat mengerjakan tes. Padahal ketika menghadapi tes, anak selalu belajar. Disayangkan jika jerih-payahnya kurang dihargai. Maaf kalau banyak guru tersinggung, tetapi beginilah dunia pendidikan kita. Memang mengoreksi hasil tes anak didik adalah pekerjaan yang (mungkin) dianggap membosankan. Bukankah itu risiko profesi sebagai guru. Mohon pihak Diknas melalui kepala sekolah memberi pengarahan kepada para guru sehingga kejadian yang tidak diinginkan terulang lagi. Memang tidak bisa langsung membenahi wajah dunia pendidikan yang sudah carut-marut ini. Mulai dari kurikulum yang sering berganti, bangunan sekolah bobrok, para guru yang menuntut kesejahteraan dan lainnya. Tetapi toh bisa membuat sistem pendidikan yang lebih baik sehingga bisa menghasilkan generasi penerus yang benar-benar profesional dan mampu menghadapi persaingan. Yuda Prasetyo Jl Sultan Hadirin Mantingan, Jepara *** Pemeliharaan Jalan Di beberapa ruas jalan di kota Semarang, dijumpai kerusakan dengan lubang menganga. Mula-mula memang kecil, tetapi karena tidak segera ditangani maka makin lama makin lebar dan dalam. Apalagi di musim hujan kondisi seperti itu bisa berlangsung lama. Bagi pengguna jalan tentu menjadikan tidak nyaman karena bisa mengakibatkan kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua. Bagi pengendara roda empat pun bila apes terperosok, paling tidak akan merusakkan bagian roda. Perbaikan/penambalan biasanya menunggu selesainya musim hujan. Agar kenyamanan pengguna jalan terjamin, mestinya pihak yang bertangung jawab (Dinas PU Kota) melakukan perawatan/pemeliharaan jalan secara rutin. Caranya, membentuk satuan khusus yang selalu siap melakukan penambalan jalan yang berlubang. Tidak perlu menunggu lubang makin lebar dan dalam. Tentu tidak harus setiap hari, bisa seminggu sekali atau mungkin sebulan cukup tiga atau dua kali. Sebelum satuan penambal jalan bergerak, sebaiknya didahului oleh satuan pengamat/peneliti/pengawas. Mereka yang mencatat semua lokasi jalan yang berlubang. Maaf, tidak bermaksud menggurui. Kepala Dinas PU Kota Semarang pasti memiliki konsep yang baik dalam penanganannya. Itu kalau sepakat dengan usulan saya. Suparmanto Jomblang Legok RT 06/RW 02, Semarang *** Purworejo Menangis Bagai tersambar halilintar di siang bolong mendengar APBD Purworejo 2006 diduga dikorupsi sebesar Rp 2,756 milliar (SM 3/1 2008). Sebenarnya dengan terbukanya kasus APBD 2004 dan buku 2004 diharapkan para penjahat segera sadar dan takut, namun nampaknya justru makin beringas berlomba untuk mendapat harta rakyat tanpa berkarya. Sebenarnya Purworejo yang didirikan Kanjeng Bupati Cokronegoro I setelah usai perang Diponegoro sekitar tahun 1830, telah ditata sedemikian apiknya untuk menjadi daerah yang gemah ripah loh njinawi kerta raharja. Beliau telah membuat rambu dengan mengelompokan bangunan sebagai pengingat bagi yang lupa atau melupakan. Rambu tersebut adalah alun-alun besar yang dikelilingi masjid agung, gereja, rumah bupati, kantor kejaksaan, makodim, kantor bupati, mapolres dan penjara. Dulu juga ada kantor Pengadilan Negeri dan kantor DPRD. Susunan ini mengingatkan semua agar berbuat baik, karena bila menyimpang apalagi merusak maka aparat negara akan segera mengambil tindakan dan akhirnya masuk penjara. Sebuah maha karya yang spektakuler serta pantas dilestarikan. Susunan yang merupakan filosofi kehidupan orang Purworejo itu ternyata kini menuai airmata. Pertama, saat ditetapkan Hari Jadi Kota Purworejo. Betapa tidak, nama Purworejo yang dicanangkan setelah tahun 1830 yang berarti umurnya baru 180- an tahun, direkayasa seolah nama itu sudah ada seribu tahun lalu. Airmata kedua, saat para perusak daerah mulai melancarkan aksi rakusnya dengan terkuaknya beberapa kasus dugaan korupsi. Bahkan kabarnya sudah berdesakan antrean panjang tidak kurang 8 kasus besar. Namun tangisan itu tak ada yang peduli, semua diam membisu seperti arca kuno yang siap dipindah dari museum. Padahal banyak pihak yang harusnya tersinggung, protes bahkan marah atas perilaku itu yaitu anggota DPRD, intelektual/akademisi termasuk mahasiswa, LSM, masyarakat serta semua PNS. Apa mungkin , burung tak bisa berkicau saat sedang mematuk makanan lezat?. Mari hentikan korupsi dan tangis Purworejo. Kuncinya hanya sapu bersih yang mampu membersihkan lantai kotor. Drs Sudarmo Subroto MM Jl Jend Sudirman 44, Purworejo. *** Mencari Wali Kota Tegal yang Jujur Kota Tegal tahun 2008 akan mengadakan pilihan wali kota dan diharapkan ada partisipasi aktif semua warga termasuk yang kini merantau. Momentum penting untuk mencari figur pemimpin Kota Tegal mendatang harus dimanfaatkan sebaik mungkin, dengan tetap menjaga stabilitas politik yang sejuk, aman, kondusif serta jauh dari konflik. Semua akan jadi kenyataan bila warga turut mendukung, membantu serta mengkondisikan lingkungannya agar tetap tenang, aman, nyaman dan memelihara kerukunan antarwarga sendiri dengan tetap mengedepankan kepentingan umum di atas segalanya. Anggota tim sukses dari para calon juga harus bisa memelihara keadaan, situasi politik daerah dengan menjunjung kejujuran, transparansi serta menjauhi KKN. Manajemen tim sukses mesti dibentuk dengan sikap profesionalitas tinggi. Unsur pemaksaan, penekanan, politik uang, ancaman atau trik negatif dalam menggalang masa pendukung di tingkat bawah harus diajuhi. Manajemen pengendalian diri harus dinomorsatukan serta sikap arogan atau sifat lain yang kurang baik harus ditinggalkan. Mereka harus menggunakan etika politik yang cantik. Pilkada Kota Tegal 2008 harus berhasil dan sukses. Ayo cari figur pemimpin yang jujur. Wisnu Widjaja Jl Sindoro I/16 Panggung, Tegal. *** Asemnya Mana ? Beberapa waktu lalu berjuta pohon ditanam ramai-ramai dalam rangka global warning. Di Jateng ditancapkan 3.047.771 batang pohon. Nah saat kerja bakti menanam 11.400 batang pohon di areal lokasi kerja saya, iseng-iseng saya mencari pohon asem. Ternyata menurut panitia, yang bakal ditanam bukan pohon asem tapi bibit pohon sengon laut. Padahal konon pohon asem merupakan trade mark Semarang dan dari kata asem menurut cerita almarhum simbah, muncul nama Semarang. Keluarga istri dari Sumatra kalau datang juga selalu menanyakan "Semarang kok asemnya jarang?". Jawab saya, ya memang jarang karena Semarang dari kata asem arang (jarang). Padahal pohon asem sepengetahuan saya juga jarang mencelakakan dibanding pohon bukan pohon lainnya yang ditanam di pinggir jalan protokol Semarang. Seperti yang terjadi pada keluarga tetangga saya yang beberapa waktu lalu meninggal dunia tertimpa pohon tumbang. Sementara jarang ada pohon asem tumbang mencelakakan pengguna jalan. Masih terlintaskah dalam pikiran untuk menghijaukan kota Semarang dengan pohon asem sekaligus nguri-uri trade mark ibukota Jateng ? Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran |