| Jumat, 25 Januari 2008 | SEMARANG |
Penjualan Sepi, Tiga Bulan Baru Laku Empat Cowek
SULITNYA mencari kerja untuk memperoleh penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup, membuat seseorang rela melakukan kerja serabutan demi mendapatkan upah. Meskipun upah yang diterimanya sedikit. Hal itulah yang kini dilakoni Markim (48), seorang perajin batu dari RT 1 RW 4 Dukuh Ngampel, Kelurahan Blotongan, Kecamatan Sidorejo Salatiga. Karena penghasilan kerajinan batu yang ia kerjakan tidak bisa diharapkan sepenuhnya, ia pun rela menjadi buruh serabutan demi mendapatkan upah untuk membeli sesuap nasi. ''Lha pripun maleh Mas, tiga wulan namung pajeng sekawan cowek (Lha bagaimana lagi mas, tiga bulan hanya laku empat cobek). Badhe maem saking pundi menawi mboten kerja serabutan (Mau makan dari mana kalau tidak kerja serabutan)?'' tutur bapak tiga anak satu cucu ini. Sedangkan harga cowek yang dijualnya tidaklah seberapa dibandingkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Dijelaskannya, selama ini ia menyibukkan diri dengan membuat kerajinan batu selama tidak ada kerja lain. Berbekal palu dan tatah baja, ia membuat cowek, lumpang, dan tenger atau maesan. Hasil kerajinan tersebut kemudian dipajang di tepi Jalan Blotongan atau tepatnya di depan rumah adiknya di RT 3 RW 4 Gang Buaya Blotongan Kecamatan Sidorejo Salatiga. Tiga Hari ''Sepasang cowek besar (cobek dan ulegnya) saya jual Rp 30 ribu, sedangkan yang kecil dijual Rp 5.000 sepasang,'' terang Markim yang hanya mengenyam bangku sekolah hingga kelas 4 SD. Kemudian untuk sepasang lumpang besar dijual Rp 25 ribu dan yang kecil dijual Rp 20 ribu. Sedangkan untuk tenger, ia jual Rp 75 ribu sepasang. Dalam membuat kerajinan tersebut, sebuah cowek besar atau lumpang besar bisa memakan waktu selama tiga hari. Hal itu terjadi karena ia lebih mengutamakan kerajinan dan kerapian dalam pengerjaannya. Selama berjualan, ia juga pernah mengalami pengalaman pahit. Sebanyak tiga pasang tenger yang dipajang bersama barang dagangannya yang lain, hilang dicuri orang. ''Saya hanya bisa pasrah. Sudah cari uang buat makan susah, eh...barang dagangan dicuri orang. Ya, mau bagaimana lagi. Beginilah nasib orang kecil,'' ucapnya. Meskipun kehidupan yang dijalani sebagai perajin batu sulit, Markim tetap gigih dalam bekerja. Ia tetap menjalankan usahanya tersebut meskipun harus tersendat-sendat. Namun ketika ada tawaran kerja sebagai buruh, usahanya itu ia tinggal dan dititipkan ke adiknya. (Leonardo Agung B-16) |