| Jumat, 25 Januari 2008 | KEDU & DIY |
Tempe Benguk dan Gembus Jadi Pilihan
YOGYAKARTA - Pembuat tempe di Yogyakarta dan sekitarnya mulai mengurangi produksi karena mahalnya harga kedelai. Mereka juga mengganti membuat tempe dengan bahan dasar biji koro atau dikenal dengan tempe benguk. Bahkan di daerah pinggiran ada yang membuat gembus dari ampas tahu karena harganya cukup murah. ''Tapi sekarang mencari ampas juga agak susah karena pembuat tahun juga kelabakan mencari bahan dasarnya yang sudah mahal,'' ungkap Panut, pembuat gembus. Sementara itu, Partijan, pembuat tempe, mengatakan, tempe benguk lebih murah karena harga bahan dasar hanya Rp 2.500/kg sedangkan kedelai mencapai Rp 8.000/kg. Dia pun banting setir membuat tempe koro karena tak kuat membeli kedelai. Risikonya, dia kehilangan sejumlah pelanggan namun ada pula yang maklum dan mau beralih mengonsumsi tempe benguk. Dia sudah lebih dua minggu memproduksi tempe koro. Biaya produksi terutama untuk bahan baku lebih murah dan sekarang dalam sehari dia bisa mengolah 50 kg koro menjadi tempe. Konsumen tampaknya mengerti kesulitan para pelaku industri rumah tangga tersebut. ''Banyak kok yang tak mempersoalkan karena daripada membeli tempe biasa mahal lebih baik ganti tempe benguk yanga hanya Rp 100/biji untuk mentah dan Rp 200 sudah matang,'' jelasnya. Puluhan tahun dia menjalani pekerjaan itu dan menurutnya baru kali ini mengalami pergantian harga kedelai. Dia tidak menyebut naik tapi ganti harga. Dahulu kenaikan masih dalam batas wajar tapi sekarang sudah di luar logika para pedagang. Bisa saja dia tetap membuat tempe kedelai namun harus siap-siap tambah modal dan menaikkan harga. ''Kalau dipaksakan membuat meski sedikit-sedikit masih bisa namun harganya pun harus naik dan cukup tinggi, apa ya ada yang mau beli kalau harganya naik misal 50%-100%,'' ucap dia. (D19-70) |