logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 25 Januari 2008 KEDU & DIY
Line

''Jangan Sembarangan Tangkap Burung, Bisa Kualat''

  • Oleh Agung PW

BEBERAPA tahun lalu masih dapat kita temui berbagai jenis burung di pekarangan depan rumah, perkampungan, kebun, dan hutan. Namun kini sepertinya sudah jarang terlihat dan tak lagi terdengar kicauannya, misal saja burung prenjak, ciblek, trocokan, kutilang, sulingan, punglor merah, jalak uren, dan srikatan.

Penyebab tersingkirnya hewan-hewan tersebut dari peredaran antara lain makin berkurangnya areal hijau serta perburuan liar yang dilakukan segelintir orang. Mereka berburu, membunuh, sekadar iseng-iseng atau untuk dijual bukannya dibudidayakan. Lihat saja, masih sering terlihat orang-orang menenteng senapan angin menembaki burung dari pohon ke pohon.

''Saya yang tiap hari kerjaannya mencari burung saja tidak tega melihat kondisi itu, burung kecil-kecil sampai yang sudah tua ditangkap, ditembaki, ya jelas punah,'' ujar Sarjono, warga Bakalan, Sumberadi, Sleman yang setiap hari masuk-keluar kebun, hutan mencari burung berkicau.

Profesi ini sudah dijalaninya sejak duduk di bangku SMP tahun 1970-an. Sejak semula dia memang menyukai burung berkicau dan mencoba mencari nafkah dari sana. Akhirnya dia memutuskan untuk menekuni pekerjaan mencari burung. Namun jangan salah sangka, ayah dua anak tersebut tidak sembarangan menangkapi burung.

Dia melihat-lihat jenis burung yang masih layak ditangkap. Pasalnya, beberapa jenis burung sudah mulai langka seperti punglor merah, kacer hitam lokal, jalak uren, jalak putih, jalak hitam. Pantangan baginya menangkap burung langka yang nyaris punah.

''Rasanya gimana gitu...mesakake...ora mentala, wong sudah mau punah kok ya masih ditangkapi. Biarkan mereka hidup dan berkembang biak sebanyak-banyaknya, lagi pula menangkap burung sembarangan bisa-bisa kualat,'' ujarnya prihatin.

Ciblek dan Sulingan

Selama menjadi penangkap burung, dia lebih banyak menjaring ciblek dan sulingan (tledekan). Keduanya masih cukup banyak ada di kebun, hutan. Kendati demikian dia juga tidak asal tangkap. Burung yang masih kecil, muda, dibiarkan agar tumbuh dewasa dan berkembang biak sedangkan yang sudah dewasa dia tangkap.

''Ada juga yang menangkapi burung semaunya, semua diangkut tanpa mau melihat bagaimana nanti masa depannya apakah masih ada jenis burung itu atau tidak,'' tutur dia.

Sarjono mencari burung di wilayah tidak terlarang. Dia sudah hafal hutan mana yang dilarang dan tidak. Tiap pagi dia berangkat paling lambat pukul 04.30. Lebih pagi lagi lebih baik. Terlambat sedikit, dapat dipastikan tak akan memperoleh tangkapan. Dia berangkat membawa jaring dan burung pemikat, penarik burung lain agar mendekat.

Karena sebagian besar tangkapannya ciblek dan sulingan, dia dikenal sebagai Sarjono Ciblek atau Sarjono Sulingan. Setiap pulang dari bekerja, sudah ada pelanggan menunggu di rumah. Mereka ingin langsung melihat hasil tangkapan, kalau bagus dan sreg, langsung bertransaksi. Dia tak perlu susah-susah menjual ke pasar karena ada pelanggan.

''Tapi tiap kali pasaran di Sleman saya juga berangkat membawa dagangan. Biasanya yang benar-benar bagus ditinggal di rumah, biar pelanggan datang sendiri melihat langsung,'' tandas dia. (70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA