| Jumat, 25 Januari 2008 | INTERNASIONAL |
Gaza Dibiarkan Bebani MesirJERUSALEM - Israel menyatakan tidak akan bertanggung jawab lagi atas wilayah Jalur Gaza. Pernyataan itu dilontarkan oleh pejabat Kementerian Pertahanan Israel kemarin, sehari setelah militan Palestina merobohkan tembok perbatasan Gaza dengan Mesir. ''Kami perlu menegaskan bahwa ketika Gaza membuka sisi lain perbatasannya, maka kami tidak lagi bertanggung jawab atasnya. Dengan demikian, kami tidak akan memiliki hubungan lagi dengan wilayah itu,'' kata Deputi Menteri Pertahanan Matan Vilnai. Vilnai mengatakan, upaya-upaya Israel untuk melepaskan kendali atas Gaza terus dilakukan. ''Kami akan menghentikan suplai listrik, air, dan obat-obatan kepada mereka. Gaza bisa mendapatkan semua itu dari tempat lain, bukan melalui wilayah kami,'' ujarnya. Israel menduduki Jalur Gaza sejak 1967. Vilnai mengatakan, Israel mulai melepas wilayah itu pada 2005 dengan menarik seluruh pasukan dan pemukim Yahudi dari Gaza. Kendati demikian Israel sejauh ini masih mengontrol perbatasan Gaza utara dan timur, termasuk pula wilayah udara dan airnya. Di lain pihak, Mesir selama ini mengontrol wilayah perbatasan Gaza selatan. Memborong Barang Rabu lalu, militan Palestina meledakkan beberapa bom sehingga merobohkan tembok perbatasan Rafah di Gaza selatan. Melalui pagar perbatasan yang telah jebol itu, puluhan ribu warga Gaza menyeberang masuk ke wilayah Mesir untuk mencari bahan kebutuhan pokok dan obat-obatan. Tembok Rafah itu dijebol setelah Israel memblokir seluruh pintu perbatasan Gaza utara dan timur sejak Jumat pekan lalu. Akibat diisolasi total oleh Israel, Gaza terancam mengalami krisis kemanusiaan. Sampai kemarin, ribuan warga Gaza masih mengalir masuk ke wilayah Israel. Sebagian besar bermaksud membeli barang-barang kebutuhan pokok di Mesir. Persediaan barang di toko-toko Rafah dan El-Arish, Mesir, telah menipis lantaran diborong oleh warga Gaza. Sejak insiden penculikan seorang tentara Israel oleh militan Palestina pada Juni 2006, pintu perbatasan Rafah selalu ditutup. Setelah Hamas mengambil alih Gaza tahun lalu, Israel mulai membatasi pengiriman bantuan kemanusiaan dan suplai bahan kebutuhan pokok ke wilayah berpenduduk 1,5 juta jiwa tersebut. Pekan lalu, Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak memerintahkan penutupan total perbatasan-perbatasan Gaza. Dia beralasan, pemblokiran itu diperlukan untuk mencegah serangan roket militan Palestina. Selasa lalu, Israel mulai melonggarkan blokadenya dengan mengizinkan pengiriman empat truk tangki bahan bakar ke Gaza. Hal itu dilakukan setelah Israel dikecam oleh komunitas internasional.(rtr-ben-25) |