| Jumat, 25 Januari 2008 | BUDAYA |
Merajut Estetika JalananTANGAN kurus lelaki itu terus-menerus memainkan pensil di selembar kertas putih. Ratusan garis telah dia buat. Lalu, muncullah sketsa sepotong wajah bocah perempuan. Dia melukis di jalanan, di perempatan Singosaren, Solo, yang tak pernah sepi. Ya, di tengah keriuhan orang dan kendaraan yang lalu lalang itulah Sigit Nugroho berkarya. "Mungkin karena terbiasa, saya seperti tak peduli dengan keramaian itu," ujar Sigit, kemarin. Sudah tiga bulan Sigit jadi pelukis sketsa jalanan. Dari jalanan itulah dia berharap bisa mengais rezeki. Ya, siapa tahu, orang-orang yang lalu lalang itu membeli lukisannya. "Penghasilan saya tak menentu. Terkadang sehari ada dua-tiga pemesan. Namun lebih sering tak ada sama sekali. Bahkan pernah tiga minggu saya cuma duduk-duduk," ujarnya. Bakat Alami Sigit belum pernah masuk dan berpameran di galeri. Studionya pun, bagi dia, adalah hiruk-pikuk jalanan. Maka, estetika yang dia mengerti adalah estetika jalanan. "Kebanyakan gambar saya dengan model foto. Karena itu ukuran bagus dan tidak ya sama persis atau tidak dengan fotonya," kata dia. Karya Sigit berukuran 30 x 50 cm. Dia mematok harga setiap lukisan Rp 50.000. "Namun terkadang Rp 40.000, jika orang yang meminta dilukis hanya bisa membayar sebesar itu," katanya. Dia tak punya pendidikan khusus. Lelaki jebolan SMA itu memperoleh keahlian melukis dari melihat teman, lalu mencoba-coba, dan akhirnya jadi pelukis jalanan seperti sekarang. "Mungkin bakat alami," gumam dia. Dia mengaku nyaman saat bekerja, meski penghasilan tak menentu. Sebab, dia merasa tak diperbudak waktu atau peraturan. "Kapan pun ingin bekerja, saya tinggal menuruti kata hati," ujar lelaki yang menjajakan jasa melukis antara pukul 10.00 dan 21.00 itu. Dia menyatakan menikmati dan menghayati betul hidup sebagai pelukis jalanan. Di pojok perempatan itulah dia acap merebahkan tubuh saat kantuk menyerang. "Asyik saja. Apalagi ada teman," ujarnya seraya menujuk Anto, lelaki muda kawan seprofesinya. Tak inginkah memperoleh pekerjaan tetap? "Cuma berbekal ijazah SMP, apa pekerjaan yang bisa saya peroleh saat ini?" ujar dia balik bertanya. (Wisnu Kisawa-53) |