| Jumat, 25 Januari 2008 | BUDAYA |
Jagoan Tak Mati-matiJOHN Rambo (Sylvester Stallone) datang lagi. Kini, sang jagoan itu lebih matang, meski tetap sinis memandang kehidupan. Dia beranggapan orang baik selalu memperoleh perlakuan tidak benar. Seperti pada Rambo 1, First Blood (1982), Rambo 2, First Blood 2 (1985), dan Rambo 3 (1988), kali ini pun veteran Perang Vietnam itu tetap berjuang melawan tirani. Dan, Myanmar (Burma) adalah ladang peperangan terbaru ikon pertempuran yang seolah tidak pernah terkalahkan itu. Alih-alih, hidup damai di pedalaman Thailand dengan jadi pemburu ular kobra, jagoan tua yang masih bugar, segar, dan sangar itu kembali memikul senjata. Agaknya dia menganut filosofi sekali berarti sudah itu mati, sebagaimana diyakini Chairil Anwar. Ya, bagi Rambo, panggilan jiwa dan darah yang telanjur didominasi gen peperanganlah yang jadi penyebab kenapa terlibat peperangan yang sebenarnya emoh dia lakukan. Lalu, selama 94 menit, penonton pun bakal tercekam oleh aksi spektakuler sang jagoan menekuk sepeleton serdadu Myanmar dalam drama peperangan yang menegangkan. Pada menit pertama, penonton disuguhi gambar dokumenter dari berbagai stasiun televisi di dunia tentang kekejaman tentara Myanmar menumpas para pembangkang. Ada biksu digebuki saat demonstrasi, mayat mahasiswa dan rakyat dimutilasi, lalu diberondong pelor, dibakar, dan diserakkan di sembarang tempat. Semua adegan nyata itu terjadi November 2007. Dalam bahasa Rambo, tentara Myanmar mahir membunuh rakyat semudah menarik napas. Setelah itu, film berdasar skenario garapan sutradara Sylvester Stallone itu kembali memperkenalkan sosok Rambo. Sebagai penulis dan aktor kawakan yang pernah diunggulkan meraih dua Oscar kategori aktor terbaik dan skenario terbaik lewat Rocky (1976), Sly tahu betul bagaimana bercerita. Memanfaatkan sentimentalitas kemanusiaan, Rambo menyelamatkan para missionaris di perbatasan Myanmar dan Thailand. Bahu-membahu dengan sekumpulan tentara bayaran jebolan pasukan elite Special Air Service (SAS) Kerajaan Inggris, Rambo dan kompatriotnya berhasil membekap tentara Myanmar. Seperti kisah usang tentang kepahlawanan, kaum tertindas yang dia bela - kali ini "diwakili" Suku Karen - akhirnya memenangi peperangan. Dan, Rambo sesungguh benar tampil sebagai jagoan yang tak mati-mati. Film yang bakal diedarkan secara serempak di seluruh dunia pada 25 Januari itu mengambil lokasi syuting di dataran tinggi Chiang Mai, Thailand. Lalu, sebagian lagi di wilayah perbatasan Myanmar dan Thailand. (Benny Benke-53) |