| Kamis, 24 Januari 2008 | SALA |
Subo Suko WonosratenPembunuh Ayah Sakit JiwaWONOGIRI- Ny Katini (30), tersangka pembunuh ayah kandungnya, oleh dokter dan psikiater Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Surakarta, dinyatakan mengidap gangguan jiwa berat. Kondisi itu membuat pihak Polres belum dapat melakukan pemeriksaan. Kapolres Wonogiri, AKBP Agus Djaka Santoso mengatakan, untuk melakukan pemeriksaan pada Katini, pihaknya menunggu hasil pemeriksaan kesehatan jiwanya yang dilakukan oleh dokter dan psikiater RSJ Surakarta - tempat selama ini Katini menjalani perawatan dan pengobatan. Kecurigaan Katini sebagai tersangkanya sudah cukup kuat. Menurut Kapolres, orang pertama yang keluar dari kamar korban, saat itu adalah Katini. Bahkan ada saksi yang melihatnya dan menyatakan mengetahui tangan Katini waktu itu berlumuran darah segar, yang diduga darah dari luka tusukan linggis yang dijojohkan ke tubuh Kromo Kasimin (67).(P27-42) Rekayasa Pemakaian BOS BOYOLALI- Terjadinya rekayasa laporan pemakaian dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) diakui Bupati Sri Moeljanto. Penyimpangan itu bisa dieliminasi dengan melalui penguatan dan pendampingan di bidang kemampuan administrasi. ''Saya akui hal itu masih sering terjadi. Maka perlu peningkatan pengawasan sehingga program BOS nantinya dapat mencapai sasaran,'' ujar Bupati dalam sambutannya pada Sosialisasi Program DBE (Decentralized Basic Education) I USAID tahun 2008 Provinsi Jawa Tengah di ruang Kepodang Pemkab Boyolali, Rabu (23/1). Dia mengatakan, program BOS sebagai salah satu dari komponen kebijakan bidang pendidikan diarahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat termasuk keluarga miskin. Namun sampai sekarang ini masih banyak keluhan yang disampaikan masyarakat terkait dengan realisasi penggunaan. (G10-42) Bantuan Banjir Tak Menyimpang SRAGEN Hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap penyaluran bantuan bencana banjir yang dikelola Posko Bencana Pemkab Sragen, tidak ditemukan adanya penyimpangan. Dari tiga item yang diaudit, yakni bantuan yang diterima, penyaluran (distribusi), serta persediaan bantuan yang masih ada di Posko, tidak ditemukan pelanggaran. "Tidak ada masalah, semuanya sesuai dengan pembukuan maupun fakta di lapangan" ucap Kepala Kesbangpolinmas yang sekaligus Koordinator Satuan Pelaksana Penanganan Bencana (Satlak PB) Sragen, Wangsit Sukono, Rabu (23/1). Adapun sisa bantuan yang saat ini masih ada di Posko akan segera dibagikan. Saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan para camat agar bantuan nantinya tepat sasaran. (J5-63) Bungkil Naik, Peternak Terpukul BOYOLALI- Kenaikan harga kedelai berdampak terhadap kualitas konsentrat dari pabrik berbahan bungkil kedelai. ''Saya lihat kok kualitas konsentrat mengalami penurunan,'' ujar seorang peternak sapi perah, Sigit (35) asal Musuk. Dia khawatir menurunnya kualitas konsentrat berdampak terhadap kuantitas dan kualitas susu yang dihasilkan. Untuk menyiasati itu, dia menambahkan ketela pohon sebagai campuran makanan ternak. ''Sebenarnya peternak mulai bergairah setelah ada kenaikan harga susu. Saat ini harga susu di tingkat KUD mencapai Rp 2.500/liter, padahal setiap ekor sapi mampu menghasilkan 8 - 11 liter/hari.'' Kenaikan harga bungkil dan kedelai diakui Setyoko Budi Raharjo, pemilik CV Raya Mandiri, memukul usahanya. Pemilik usaha pakan ternak sapi tersebut mengeluhkan kenaikan harga bungkil kedelai seiring dengan melonjaknya harga kedelai di pasaran. Harga bungkil kedelaipun turut melambung dari Rp 3.500/ kg menjadi Rp 7.000/kg.(G10-42) Ditemukan Tulang Kerbau Purba SRAGEN-Penemuan tulang kerbau purba (bufalus paleokarabau) yang diperkirakan berusia 125.000 tahun di tebing Pagerejo, Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen menggegerkan masyarakat setempat. Di lahan tegalan milik Sugimin (55), tulang kepala kerbau beserta tanduk dan tulang rusuknya itu masih dibiarkan menggunduk. Pihak Museum masih menunggu instruksi dari Balai Peninggalan dan Pelestarian Purbakala (BP3) Prambanan untuk melakukan ekskavasi. Sebuah papan peringatan dan pagar pembatas sudah dipasang di sekitar lokasi penemuan. "Kami diminta Museum Sangiran untuk mengamankan lokasi penemuan fosil. Di sekeliling lokasi penemuan sudah kami pasangi pagar pembatas dan papan pengumuman," ucap Lilik Widiyanto (21) anak Sugimin yang ikut melakukan pengamanan. (J5-63) |