logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 24 Januari 2008 WACANA
Line

PRO - KONTRA

Balas Dendam, Sama-sama Hina

  • Oleh Muhibin AM

KONDISI kesehatan mantan presiden ke dua Republik Indonesia HM Soeharto yang semakin menurun, banyak menimbulkan kontroversi di antara masyarakat Indonesia sendiri. Sebagian ada yang prihatin atas kesehatan mantan pemimpin Orde Baru itu, dan mencoba untuk memaafkan atas semua kesalahan dalam masa kepemimpinannya. Bahkan banyak di antara golongan ini yang menggelar acara doa bersama untuk kesembuhannya. Sebagian yang lain justru tidak mempedulikan kondisinya, dan tetap menginginkan Seoharto diadili.

Sosok Soeharto yang dalam masa kepemimpinannya mempergunakan jalan kekerasan memang banyak memunculkan kontroversi, terutama oleh rival politiknya. Namun di antara mereka banyak yang memilih untuk tidak mau mengambil risiko. Situasi yang demikian tersebut semakin menjadikan Soeharto sebagai sosok yang prestisius yang pada akhirnya melanggengkan kursi kepemimpinannya selama tiga puluh dua tahun.

Jika dilihat perjalanan dari mulai menjelang hingga lengsernya dalam memimpin Indonesia selama 32 tahun,ia merupakan sosok pemimpin yang ideal dalam membawa misi ke depan bangsa saat itu. Supersemar yang dituduh oleh banyak kalangan merupakan rekayasa bukan semata hanya keinginan Soeharto, yang secara pribadi haus akan kekuasaan. Akan tetapi masa itu, partai komunis yang didukung oleh Soekarno (presiden pertama Indonesia) serta masa-masa menguatnya umat Islam untuk mendirikan Negara Islam Indonesia menjadikan sosok Soeharto sebagai orang yang bertanggung jawab menyelamatkan Pancasila dari rongrongan musuh Negara. Untuk mengatasi itu semua, Soeharto bertindak dengan jalur-jalur pengalaman militernya.

Partai Komunis Indonesia yang telah melakukan pemberontakan di Madiun menjadikan sikap traumatis yang mendalam bagi kalangan ABRI, yang ketika itu dipimpin oleh Soeharto. Untuk membasmi seluruh simpatisan partai itu, maka tak heran jika Soekarno juga ikut tergeser dari kursi kepresidenannya, sebagai akibat dari dukungannya kepada partai Komunis.

Terjepit

Soeharto adalah orang yang pancasilais, ia tidak menginginkan Pancasila dinodai oleh ideologi lain yang ingin menggantikan keberadaan Pancasila sebagai ideologi negara. Dengan melihat kondisi yang serba terjepit dua macam ideologi yakni komunisme dan syariat Islam dari berbagai arah, menjadikan sosok Soeharto memiliki ketekadan untuk membasmi secara militer, atas setiap tindakan yang menjurus kepada komunisme dan Negara Islam Indonesia.

Kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun adalah masa kepemimpinannya yang dimanfaatkan untuk mengenalkan ideologi pancasila yang terbentuk dalam P4. Dengan program P4 Soeharto mengharapkan kepada rakyat Indonesia bahwasanya ideologi yang pantas bagi bangsa Indonesia adalah Ideologi Pancasila yang mengakui berbagai macam perbedaan ras, suku, agama dan golongan serta tidak melupakan Tuhan masing-masing sebagai bangsa yang beragama. Maka jika soeharto dikatakan telah menghancurkan roda pembangunan bangsa ini ke depan merupakan suatu kesalahan yang sangat fatal.

Secara objektif hal itu bukanlah misinya untuk semata-mata menjadi penguasa bangsa ini. Akan tetapi ia mencoba mengemban amanat yang telah diwariskan oleh pendahulunya, bahwa pancasila merupakan jalan satu-satunya untuk menyatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam ras, suku, agama dan golongan. Jika melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini, Soeharto merupakan sosok pahlawan yang patut dihormati.

Kehancuran roda perekonomian bangsa Indonesia bukan atas sebab Soeharto yang memimpin selama Orde Baru. Akan tetapi oleh pejabat bangsa Indonesia pasca-kepemimpinan Orde Baru yang ternyata lebih banyak mempraktikkan KKN. Hasil korupsi Soeharto tidak sebanding dengan kalkulasi para koruptor pasca reformasi hingga saat ini, mereka yang banyak tidur di atas kasur uang Negara.

Suatu hal yang wajar jika suatu kepemimpinan yang berlangsung lama memiliki sedikit kesalahan. Akan tetapi yang menjadikan tidak wajar adalah pemimpin dan pejabat saat ini yang hanya memiliki waktu kepemimpinan selama lebih kurang 5 tahun, akan tetapi jumlah uang yang dikorupnya melebihi hasil korupsi Soeharto selama 32 tahun.

Maka kemudian alangkah baiknya jika kita lebih bisa instropeksi diri dalam melihat nasib bangsa Indonesia saat ini. Jika kita selama ini selalu mengambinghitamkan Soeharto atas terpuruknya ekonomi bangsa Indonesia, maka pada saat sekarang ini alangkah baiknya kita mempertanyakan hasil yang telah dicapai oleh para pemimpin bangsa untuk mengatasi kondisi bangsa yang sedang carut marut.

Apakan mereka lebih baik dari yang sudah Soeharto hasilkan atau justru sebaliknya. Soeharto telah memperoleh predikat bapak pembangunan sedangkan setelah reformasi bergulir belum ada pemimpin Negara ini yang memperoleh predikat sebanding, apalagi melebihi.

Soeharto kita lihat sebagai pahlawan penyelamat pancasila, dari pada kita melihatnya sebagai sosok yang menjijikkan, najis atau lain sebagainya. Bagaimanapun, kemunisme dan ide Negara Islam telah gagal menggulingkan Pancasila, semuanya itu atas peran dan kerja keras Soeharto, meskipun dengan menggunakan jalan kekerasan.

Dalam setiap perjuangan pasti ada yang menjadi korban, meskipun ia bukan dari pihak yang bersalah. Konsep militerisme yang dipraktikkan merupakan jalan yang tepat dalam menghadapi kondisi bangsa Indonesia yang belum stabil ketika itu.

Akhirnya kita hanya bisa berdoa, meskipun selama ini menganggapnya sebagai musuh akan tetapi alangkah mulianya jika kita mendoakannya. Sebagai mayoritas umat Islam di Indonesia, tidak ada salahnya mendoakan sesama umat Islam meskipun dia telah berbuat jahat kepada kita, bahkan Islam pun menganjurkan untuk mendoakan musuh-musuhnya. Karma dalam Islam, perbuatan membalas dendam atas orang yang berbuat kesalahan sama hinanya dengan pembuat kesalahan itu sendiri. (11)

-- Muhibin AM, Staf Peneliti pada FKiY Yogyakarta.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA