| Kamis, 24 Januari 2008 | MURIA |
WORO WOROPasokan Beras MinimKUDUS - Biasanya, pada akhir Januari atau awal Februari, produksi beras di Kota Kretek melimpah. Namun, kondisi itu tidak terjadi pada musim tanam (MT) I 2007/2008. Penyebabnya, sejumlah kawasan lumbung beras, seperti Undaan, Mejobo, Jekulo, dan Kaliwungu banyak yang gagal panen. Penyebabnya, tak lain karena banjir bandang beberapa waktu lalu. "Tahun ini kami agak susah mencari pasokannya. Kami tetap akan ekspansi ke luar daerah untuk mencari gabah,," ujar pemilik penggilingan padi di Desa Ngemplak, Undaan, Prasetyo, kemarin. Kawasan pertanian seperti Demak atau Jepara tetap menjadi incaran. Bahkan, bila perlu ke Jabar atau Jatim. (H8-36) Infrastruktur Butuh Rp 16 M BLORA - Banjir yang melanda puluhan desa di Kecamatan Kedungtuban, Menden, dan Cepu, Blora beberapa waktu lalu, selain merusak lahan pertanian juga menghancurkan sejumlah infrastruktur. Antara lain banyak jalan dan jembatan rusak. Untuk memulihkan kembali kondisi seperti sebelum banjir, diperkirakan butuh dana Rp 6,4 miliar. Kepala DPUK Blora Drs H Bondan Sukarno ketika dikonfirmasi membenarkan adanya. "Besaran dana untuk perbaikan tersebut sudah kami usulkan dalam RAPBD 2008 ini," tuturnya kepada Suara Merdeka, kemarin. Dari 16 jalan yang rusak itu, 10 ruas di antaranya harus diperbaiki total. Ada satu jalan yang harus ditingkatkan, termasuk ada lima ruas jalan hanya dilakukan pemeliharaan. Selain itu, lanjut Bondan, juga ada satu jembatan di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban ambrol, sehingga mendesak untuk diperbaiki. Diperkirakan anggarannya Rp 250 juta. (ud-36) Perlu Libatkan Arus Bawah JEPARA - Kelompok masyarakat bawah, seperti nelayan, petani, peternak, pelaku usaha kecil menengah (UKM) perlu dilibatkan dalam forum musyawarah satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Terutama dalam penjaringan aspirasi untuk menentukan rencana pembangunan di tingkat dinas kabupaten. Representasi mereka dalam batasan tertentu akan bisa menguatkan hasil jaring aspirasi. "Jadi, tidak hanya unsur pemerintah bersama lembaga swadaya masyarakat. Namun, perlu masyarakat melalui perwakilan terbatas," ungkap Divisi Advokasi dan Pemberdayaan Lakpesdam NU Jepara Muhammad Zaenuddin, Rabu (23/1). Data Bappeda, pekan ketiga Januari ini musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) tingkat desa sudah mulai. Hasilnya, akan dilanjutkan dalam forum serupa di tingkat kecamatan. Pada tingkat SKPD, hal yang sama dilakukan mulai 29 Januari mendatang. (H15-36) Pabrik Semen Disosialisasikan PATI - Rencana PT Semen Gresik mendirikan pabrik baru di Kecamatan Sukolilo, Pati mulai disosialisasikan ke warga. Kegiatan itu mulai Kamis (24/1) di Desa Kedumulyo, dan Gadudero, kecamatan setempat. Untuk keperluan tersebut, ujar Asisten II Sekda Pati Drs Desmond Hastiono MM, petugas dari perusahaan BUMN itu akan langsung bertemu dengan masyarakat. Pemkab hanya menjadi fasilitator. Yang akan dibicarakan prospek ke depan jika pabrik semen itu jadi berdiri di lokasi tersebut juga sekaligus menyangkut pembebasan tanah. Perusahaan itu akan membutuhkan lahan 500 hektare untuk lokasi pabrik. Selain itu, juga harus tersedia tanah untuk jalan khusus, dan tak kalah penting lahan yang merupakan kawasan penambangan bahan baku. (ad-36) 2.600 Ha Lahan Biodiversity REMBANG - Perusahaan Umum (Perum) Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kebonharjo hingga 2008 ini berhasil membuat lahan biodiversity untuk perlindungan flora dan fauna lokal sebanyak 2.600 hektare. Administratur Perum Perhutani KPH Kebonharjo Ir Ahmad Ibrahim MSc, di sela-sela menerima kunjungan setifikasi pengelolaan hutan lestari (PHL) oleh assesor Woodmark Inggris, kemarin mengutarakan, lahan untuk perlindungan flora dan fauna lokal itu lebih luas dibandingkan syarat yang ditetapkan untuk sertifikasi PHL. Syarat lahan yang ditetapkan, menurut Administratur KPH Kebonharjo ini, hanya 10% dari seluruh luas lahan yang dikelola. "Luas lahan yang kami kelola saat ini 17.000 hektare. Untuk mencapai syarat serfikasi itu, kami sebenarnya cukup menyediakan lahan seluas 1.700 hektare." (H19-36) |