| Kamis, 24 Januari 2008 | KEDU & DIY |
Bahan Pokok Naik, Pembuat Bakpia Terancam Mati
HARGA berbagai kebutuhan pokok melambung membuat masyarakat tercekik. Bukan saja minyak goreng yang lebih awal melejit tapi juga kedelai, tepung terigu, kacang hijau, ikutan naik. Pemerintah tak mampu mengendalikannya sehingga membuat masyarakat menjadi gerah. Para pembuat makanan berbasiskan bahan-bahan tersebut terancam mati, gulung tikar. Seperti pembuat bakpia, makanan khas Yogyakarta, yang sudah kembang-kempis. ''Biasanya tepung satu sak cuma Rp 90.000 sekarang naik menjadi Rp 160.000, ini bukan naik tapi ganti harga. Terpaksa kami juga ikut menaikkan harga, kalau tidak ya malah mati,'' ujar Ny Suginem, produsen bakpia Patuk 694, Yogyakarta. Kendati sudah menaikkan harga jual dari Rp 8.000/dus menjadi Rp 9.000/dus tapi tetap saja belum menutup biaya operasional. Beruntung, semua ditangani sendiri dibantu anggota keluarga. Misalkan harus membayar pegawai, tentu sudah gulung tikar. Untuk membeli bahan pokok saja pas-pasan, bagaimana kalau harus membayar pegawai. Kecuali naiknya bahan dasar pembuat bakpia, dia juga kesulitan mendapatkan minyak tanah. Padahal untuk membuat bakpia dia masih menggunakan kompor minyak tanah. Menurutnya, kompor minyak tanah nyala api tak begitu besar sehingga membuat bakpia bisa benar-benar matang. Lain halnya kalau menggunakan kompor gas, apinya terlalu besar, bakpia kelihatan cepat matang namun hanya di luar. ''Sekarang apa sih yang tidak naik, semua bahan dasar bakpia naik, tapi bagaimana lagi...harus bertahan hidup karena memang dari sinilah kami makan,'' tutur dia. Kurangi Produksi Ungkapan senada disampaikan Dewi, pembuat bakpia berlabelkan 45. Bahkan dia sudah mulai nombok untuk biaya produksi karena harus membayar 10 pekerja. Untuk meminimalkan kerugian dan agar dapat terus berjalan, dia terpaksa menaikkan harga dari semula Rp 10.000/dus menjadi Rp 12.000/dus sedangkan bakpia rasa keju dijualnya Rp 15.000/dus dari semula Rp 13.000/dus. ''Pokoknya harga-harga bahan dasar naik tak masuk akal. Tiap kali produksi yang terbayang hanya kerugian, nombok, produksi kurang, dan...pusing.'' Dia sudah menekan kerugian dengan menaikkan harga namun tetap belum mampu menutup operasional. Sebenarnya bisa menaikkan lagi tapi bisa-bisa tak ada pembeli. Naik Rp 1.000- Rp 2.000 saja pembeli sudah berkurang banyak. Dia selalu berusaha menjelaskan ke pelanggan kalau harga-harga kebutuhan pokok bakpia tak terkendali. Tak hanya pembuat bakpia yang menjerit, produsen roti juga kelabakan. Nining misalnya, mengeluh karena selain terigu, gula, mentega, tepung tapioka ikut-ikutan naik. Naiknya juga tak tanggung-tanggung, mendekati Rp 500 untuk masing-masing item. Tepung tapioka lebih gila lagi, dari semula Rp 98.000/sak kini menjadi Rp 170.000/sak. Pedagang makanan di pusat-pusat jajanan juga mengeluh dagangannya sepi. Pembeli memang masih ada tapi hanya segelintir. Penjaga toko lebih banyak menganggur. Lengkap sudah penderitaan rakyat akibat naiknya berbagai kebutuhan pokok. (70) |