| Kamis, 24 Januari 2008 | KEDU & DIY |
Kekerasan Muncul akibat Pemahaman Agama secara LiteralYOGYAKARTA - Pendalaman Islam berdasarkan sumber-sumber teks memang wajib hukumnya namun kadang-kadang muncul persoalan, sebagian umat hanya mau memahami secara literal dan lafaz. Inilah yang mengakibatkan munculnya kekerasan karena mereka mau tampil beda dan berupaya kembali ke zaman purba. Hal tersebut diungkapkan Dr Mohammad Fanai Esykawari, staf pengajar filsafat terapan, filsafat politik, dan irfan di The Imam Khomeini Education and Reasearch Institute yang dikelola oleh Ayatullah Mohammad Taqi Misbah Yazdi, Iran. Dia mengungkapkan hal itu ketika berbicara di kampus UMY, baru-baru ini. Menurutnya, sekarang ini dunia Islam berhadapan dengan krisis krusial, adanya dua kelompok ekstrem. Kelompok kaum muslim yang menutup mata dan menolak segala sesuatu yang baru serta mengharamkannya. Kedua, kelompok yang mewajibkan menerima mentah-mentah apa yang datang dari luar Islam tanpa filter sedikit pun. ''Menghadapi permasalahan tersebut, umat Islam dituntut berpikir kritis supaya bisa mengambil hikmah dari mana pun datangnya,'' katanya. Dia menambahkan, banyaknya ulama yang menjadi alat legitimasi kekuasaan karena ketidakmengertian terhadap Islam itu sendiri. Islam seperti yang sudah dicontohkan Rasulullah tidak ada yang namanya pembedaan. Rasulullah adalah pemegang kekuasaan politik sekaligus sebagai pemimpin spiritualitas. ''Yang salah bukan ketika kekuasaan dekat dengan ulama akan tetapi ketika ulama dan pemimpin saling mendekat untuk kepentingan-kepentingan duniawi,'' imbuh dia. Para ulama harus mulai berbenah, banyak yang menganggap dunia dan agama bertolak belakang sehingga mengidentikkan ulama sebagai penyampai agama hanya berkutat masalah fatwa. Padahal agama dan dunia adalah satu hal yang padu. Agama datang untuk mengajarkan dunia bagaimana cara hidup benar. (D19-70) |