logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 24 Januari 2008 INTERNASIONAL
Line

ANALISIS

Obama dan Hillary Guncang Politik Identitas

ATLANTA - Keikutsertaan Barack Obama dan Hillary Rodham Clinton dalam pencalonan presiden Amerika Serikat telah mengguncang politik identitas di negeri adi daya itu. Jika menang dalam pemilihan presiden 4 November mendatang, Obama merupakan orang kulit hitam pertama yang menjadi presiden Amerika sementara Hillary bakal menjadi perempuan pertama yang menduduki posisi puncak di Gedung Putih. Keduanya saat ini bersaing untuk menjadi capres melalui Partai Demokrat.

Pertarungan mereka memperebutkan suara pemilih berubah menjadi persaingan meraih simpati pada kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Misalnya, mereka bersaing untuk menggalang dukungan di kalangan perempuan kulit putih atau kelompok-kelompok pemuda kulit hitam.

''Kami belum pernah memiliki perbandingan mengenai persaingan ras dan gender yang seperti ini. Kondisinya mirip dengan suatu wilayah yang belum terpetakan,'' kata profesor ilmu politik Robert Oldendick dari Universitas South Carolina, kemarin.

Para politikus Amerika sering menerapkan pendekatan politik identitas untuk menjaring suara pemilih. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam politik identitas misalnya ras, gender, geografi, atau usia.

Situasi Rumit

Obama dan Hillary kini menghadapi situasi rumit untuk membentuk basis identitas mereka. Saat kaukus di Iowa, Obama justru mendulang banyak suara dari kaum perempuan. Sebaliknya, menurut survei, Hillary mendapat dukungan 40 persen dari kalangan kulit hitam di South Carolina. Demokrat dijadwalkan mengadakan primary (pemilihan capres) di Negara Bagian South Carolina Sabtu mendatang. Dalam seratus tahun terakhir, tidak ada politikus kulit hitam terpilih sebagai senator di wilayah selatan. Sentimen rasial masih kental di daerah selatan Amerika Serikat. Para pengamat mengatakan, tahap pemilihan calon presiden Demokrat telah menjungkirbalikkan asumsi-asumsi mengenai peran ras dan gender dalam kampanye politik di Amerika.

''Namun faktor identitas bakal memiliki dampak yang berbeda dalam pilpres November. Sebab, pandangan politik konservatif masih menguasai wilayah selatan,'' kata Merle Black, dosen ilmu politik Universitas Emory, Atlanta. Bahkan, kandidat kulit putih Demokrat juga gagal dalam perebutan simpati pemilih di wilayah selatan. ''Pada 2004, John Kerry hanya meraih 30 persen suara di selatan,'' ujar Black.

Wilayah selatan tampaknya masih tetap menjadi milik kandidat Republik yang berpandangan konservatif. Kendati demikian, banyak analis mengatakan Demokrat memiliki keuntungan politik pada tahun ini, terutama akibat kepemimpinan George W Bush yang dianggap menimbulkan banyak kontroversi. (rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA