logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 24 Januari 2008 EKONOMI
Line

Sekilas Ekonomi

KPR Bijak PermataBank

JAKARTA-Hingga September 2007, realisasi penyaluran kredit PermataKPR mencapai Rp 2,9 triliun atau tumbuh 12,5% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,5 triliun. Dengan outstanding kredit sebesar Rp 2,9 triliun ini, angka kredit bermasalah (NPL) dapat dijaga di level 1,79%, jauh di bawah ketentuan BI sebesar 5%. ''Kondisi ini sejalan dengan visi PermataBank untuk menjadi penyedia jasa keuangan yang terkemuka di Indonesia, yang memiliki fokus pada segmen UKM dan consumer,'' kata Stewart D Hall, Presiden Direktur PermataBank di Jakarta kemarin.

PermataBank meluncurkan produk KPR inovatif yang merupakan terobosan di pasar kredit kepemilikan rumah (KPR) di Indonesia. Produk ini mensinergikan produk tabungan dan KPR yang memberikan keleluasaan pada nasabah untuk mengatur jangka waktu dan bunga cicilan sesuai kemampuan finansial nasabah.(bn-33)

Akhir 2008 IHSG Bisa 3.200

SOLO-Tim Research PT Trimegah Securitas, Stanley memperkirakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mencapai 3.200 pada akhir 2008. Namun berdasarkan indikator teknikal, berpotensi mencapai 3.322. Hal itu disampaikan Stanley pada ''TRIM Investors Forum, di Hotel Novotel, Solo Senin 21/1 malam lalu. Ia merekomendasikan, saham-saham yang undervalued dan memiliki fundamental baik. Sektor yang dibidik investor, yakni selected mining, migas (energi), perkebunan, semen, alat berat, perbankan dan konsumen.

Terkait kondisi ekonomi makro Indonesia 2008, dia memperkirakan akan tetap terkendali dan terus membaik. Meski terjadi kenaikan harga minyak dunia, pengurangan subsidi BBM diperkirakan tidak akan terjadi, sehingga inflasi tetap terkendali pada level 6,5%. Suku bunga juga akan tetap terjaga pada level cukup kondusif 8%. Kemungkinan terjadinya resesi perekonomian AS dan dampaknya pada perekonomian Indonesia tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan.

Tim Riset Trimegah Securitas juga merekomendasikan investor untuk berinvestasi dalam pasar perdana obligasi pemerintah dan korporasi. Sementara investor dengan horizon investasi jangka pendek, dapat berinvestasi pada obligasi yang memiliki likuiditas tinggi di pasar sekunder.

Equity Market Strategis PT Trimegah Securitas, Satrio Utomo mengatakan, kejadian 2005 sempat membuat trauma investor reksadana berpendapatan tetap. ''Orang tidak tidak mengira rugi. Padahal sebenarnya harga itu naik turun, mengikuti harga obligasi,''katanya. (bt-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA