| Kamis, 24 Januari 2008 | EKONOMI |
Harga Tepung Terigu Masih Terus NaikSEMARANG-Harga tepung terigu yang terus melambung diperkirakan akan terjadi hingga pertengahan 2008. Kenaikan itu akibat pengaruh menunggu masa panen gandum di negara asal, seperti Australia dan Amerika Serikat. Harga gandum di pasar internasional saat ini 500 dolar AS. General Manager Sriboga Raturaya, Eddy Mulyadi mengatakan, umumnya konsumen pengguna langsung, seperti produsen mie dan roti mengeluhkan kenaikan harga itu. Mereka meminta harga gandum bisa ditekan. Namun Eddy mengatakan itu sulit dilakukan, karena tepung terigu menyesuaikan harga di pasar internasional. ''Kami akan menggiatkan promosi, karena kenaikan harga tepung terigu secara terus menerus berdampak pada penurunan permintaan,'' katanya Rabu (23/1). Ia mengatakan, banyak produsen mie dan roti yang umumnya UKM, mengurangi kapasitas produksi. Upaya itu terkait startegi mempertahankan usaha. Hal itu diketahui dengan adanya program binaan UKM pengguna tepung terigu yang dilakukan rutin. Dalam program pembinaan itu, biasanya Sriboga menyarankan agar produsen mie dan roti bisa melakukan efisiensi. Jangan bersikeras untuk langsung menaikkan harga. Karena itu demi kelangsungan usaha. Sementara untuk hubungan bisnis secara langsung, pabrik berhubungan dengan distributor besar. Sriboga telah mampu memegang pangsa pasar tepung terigu di Jateng sebesar 35%. Dijelaskan, kenaikan harga tepung terigu secara perlahan terjadi sejak pertengahan 2007 silam. Bahkan selama Januari ini saja kenaikan sudah mencapai Rp 12.000/kg. Disebutkan untuk produk keluaran Sriboga kemasan 25kg merek Naga Hijau Rp 150.000, Beruang Biru Rp 155.000, dan Tali Emas Rp 160.000. Rata-rata per bulan kenaikannya sebesar 4,5%. Terpukul Ny Yeni (54), produsen mie basah di Gang Buntu, Jalan Kauman, Semarang Tengah mengaku terpukul dengan kenaikan harga tepung terigu lantaran usahanya kian surut. Sebelum lebaran 2007, gandum di pasaran dijual sekitar Rp 80.000 per sak. Namun kini naik mencapai Rp 150.000 per sak. Hal ini berdampak pada penurunan produksi dan pengurangan karyawan. Biasanya dalam sehari dia melakukan dua kali proses produksi dengan menghabiskan 20 sak terigu. Kini hanya 10 sak. Sementara jumlah karyawan yang dulu mencapai belasan orang, kini cuma tersisa tujuh orang. Sebelumnya ia menjual mie basah ke bakul seharga Rp 4.000 per kg. Namun kini naik menjadi Rp 5.500 per kg. Sementara mie basah yang tak laku dikeringkan dan dijual separuh lebih murah ketimbang mie basah. Dengan kenaikan itu, Ny Yeni terpaksa menaikkan harga jual, meski diakui hal itu cukup berisiko, karena konsumen bisa saja lari. (H22,J14-33) |