| Selasa, 22 Januari 2008 | SEMARANG |
Penaksir Harga Tanah Mulai dari Sidomulyo
UNGARAN - Tim penaksir harga tanah independen (appraisal) di Kabupaten Semarang dalam waktu dekat akan memulai pekerjaan dari Kelurahan Sidomulyo, Ungaran Timur. Belum lama ini tim tersebut mengadakan rapat tertutup dengan jajaran pejabat Pemkab Semarang. Meski belum ada nominal harga tanah, Wakil Bupati (Wabup) Semarang Hj Siti Ambar Fathonah telah mendesak berbagai pihak untuk tidak merugikan warga kabupaten ini. Pemkab berharap appraisal segera bekerja. ''Warga pada intinya sebagian besar mendukung pembangunan tol. Kami berharap istilah kompensasi tanah bukan ganti rugi melainkan ganti untung,'' kata Wabup, kemarin. Ia menegaskan, proses penentuan harga berdasar musyawarah sesuai spesifikasi lokasi. Misalnya, harga tanah pekarangan tentunya berbeda dengan harga tanah sawah, balai desa, sekolah, dan pabrik. Tanaman juga dihargai sesuai kualifikasinya. ''Saya sudah bertemu Pak Menteri Pekerjaan Umum (Joko Kirmanto). Saya minta ganti untung karena kabupaten ini sedang dalam penuntasan kemiskinan,'' terang Ambar. Ia tak ingin, para tenaga kerja yang pabrik tempatnya bekerja digusur, menjadi pengangguran. Didampingi Sekda Ir Warnadi MM, Wabup meminta warga tidak khawatir sebab azas rasional, proporsional, dan anybody happy (semua senang) akan tetap dijunjung tinggi. Warnadi menambahkan, setelah tim penaksir harga tanah independen bekerja, akan diumumkan harganya. Jika tak ada komplain proses negosiasi segera dilakukan minggu berikutnya. ''Menurut agenda, appraisal akan bekerja mulai di Ungaran Timur, dari Sidomulyo, Susukan, Kalirejo, dan seterusnya,'' papar dia. Relokasi Dijelaskan, jumlah bidang tanah yang diprediksi dengan kenyataan di lapangan mengalami pergeseran. Kelurahan Sidomulyo yang diprediksi membebaskan 20 bidang menjadi 27 bidang. Kelurahan Susukan diprediksi 167 bidang menjadi 235 bidang, Desa Kalirejo dari 223 menjadi 305 bidang, Leyangan 92 bidang realisasinya 88 bidang, sedangkan Desa Beji belum selesai pengukurannya. Adapun pabrik yang terkena proyek jalan bebas hambatan tahap antara Semarang-Bawen ada tiga perusahaan. Yaitu di Karangjati, Bergas terdiri atas CV Jati Kencana dan Selo Arto yang hampir semua bangunan terkena, PT Pertiwi Indomas (mess dan pagar), PT Citra Jepara hanya messnya, dan PT Centra Agrexipindi Pratama tanahnya seluas 6.000 meter persegi terkena proyek tol. Sementara itu ada beberapa bangunan SD yang harus direlokasi, yakni SD Klepu I, SD Kandangan II dan IV, dan SD Bawen II dan IV. Pihak Pemkab telah menyiapkan relokasi. ''Balai Desa Derekan dan Makam di Desa Leyangan juga kena proyek ini,'' terangnya. Rumah besar dan berhalaman luas milik mantan Kades Klepu Wahyudi yang dihuni bersama istrinya Nanik Nurcahyowati (Sekretaris DPC Demokrat setempat) di Klepu juga terancam tergusur. (H14-16) |