| Selasa, 22 Januari 2008 | SEMARANG |
SUDUT PANDANGDari Bank ke FashionKRISIS ekonomi ditandai tutupnya sejumlah bank di Indonesia tahun 1997, tidak membuat Hj Sofiana putus asa dalam merintis usaha. Ibu dua anak itu sempat menjadi karyawati beberapa bank swasta di Semarang. ''Dengan uang pesangon yang tidak terlalu besar, kami jadikan untuk modal usaha,'' tutur Sofi. Ia kemudian mencoba bangkit dengan merintis usaha kecil-kecilan di rumahnya Jl Tirti Mukti II/1, Perum Graha Mukti, Pedurungan Semarang. Sejumlah busana muslim ia pajang di ruangan berukuran 4 x 4 di rumahnya. ''Alhamdulillah tidak terasa berkembang pesat. Usaha kami diterima masyarakat,'' tuturnya. Empat tahun lalu, ia mengontrak rumah di pinggir Jalan Majapahit 201A, sekitar dua meter dari jembatan layang jalan tol. ''Sofie Fashion'' yang semula hanya mengoleksi busana muslim dewasa, kini berkembang anak-anak dan remaja. Bahkan koleksi busana muslim pria juga tersedia. Meski rumah kontrakan itu tergolong tidak besar namun cukup ramai dikunjungi pembeli. Terutama pada siang dan sore hari. Pada siang hari cukup ramai karena kebetulan letaknya bersebelahan dengan warung makan ''Sederhana''. Sedangkan sore hari kebanyakan ibu-ibu yang pulang kerja menyempatkan mampir ke tokonya. Kini Sofi membuka dua toko lagi sekaligus, yaitu di Jalan Semeru Raya Blok I - H dan di Kompleks Souvenir Shop Blok A-6 Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Jalan Gajahraya Semarang. ''Alhamdulillah hanya dibantu lima karyawati usaha itu berjalan dengan baik,'' tutur anggota Iwapi Jateng itu. Pagi-pagi, setelah suami berangkat kerja dan anak-anak berangkat sekolah, Sofi tanpa sopir pribadi menyambangi tiga toko fashionnya. Ia mengaku baru sore hari bisa masuk rumah dan berkumpul keluarga. Dia juga bersiap-siap mengembangkan usahanya untuk membuka counter baru di Kompleks Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang. ''Kebutuhan busana muslim di Kota Semarang luar biasa. Asal ada koleksi-koleksi baru dalam waktu cepat habis diserbu pembeli,'' tuturnya. Ia mengaku bersyukur karena dengan memasarkan busana muslim, secara tidak langsung ikut andil dalam berdakwah agar wanita-wanita muslimah menutup aurat dengan busananya. ''Sekarang dibutuhkan tidak sekadar menutup aurat tetapi memadukan kecantikan, warna, model dan lain-lain. Insya Allah dengan berbusana muslim dan menutup aurat penampilan semakin prima,'' tuturnya. Sofi menuturkan pengalamannya saat dia menjadi karyawati bank swasta, sama sekali tidak berjilbab. Baru sepulang dari Tanah Suci tahun 2005 kulitnya yang putih terbungkus rapat oleh busana muslimah. ''Mohon doa restu, mudah-mudahan usaha kami mendapat berkah dan rida Allah Subhanahu Wataala, amin,'' tuturnya.(Agus Fathuddin Yusuf-41) |