logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 22 Januari 2008 INTERNASIONAL
Line

Abu Dhabi Bangun Reaktor Hidrogen Terbesar

  • Juga Kembangkan Kota Tanpa Limbah

ABU DHABI - Abu Dhabi berencana menginvestasikan 15 miliar dolar AS untuk mengembangkan energi ramah lingkungan. Negara pengekspor minyak itu akan membangun reaktor tenaga hidrogen terbesar di dunia.

Investasi pembangunan ''energi hijau'' itu bertujuan mengembangkan sumber energi yang bersih dan berkelanjutan. Hal itu dikemukakan Pangeran Sheikh Mohammed bin Zayed al-Mahayan saat berbicara dalam forum World Future Energy Summit di emirat itu. Proyek itu tertuang dalam Inisiatif Masdar. Namun, dia tidak menjelaskan jadwal waktu secara rinci.

''Saya ingin menggarisbawahi komitmen Pemerintah Abu Dhabi pada Insiatif Masdar, yakni dengan mengumumkan investasi awal sebesar 15 miliar dolar,'' kata dia. ''Proyek itu akan dimulai bulan depan di Kota Masdar, kota tanpa karbon yang pertama di dunia.''

Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai infrastruktur, proyek-proyek energi terbarukan seperti misalnya energi matahari, dan sektor manufaktur. ''Dengan proyek itu, Abu Dhabi akan menjadi pemimpin dalam pasar energi bersih dunia,'' kata Sultan Al Jaber, CEO Abu Dhabi Future Energy Company (Masdar).

Proyek itu meliputi rencana pembangunan kota tanpa sampah dan tanpa karbon. Kota itu bakal dihuni 15.000 warga di padang pasir dalam kurun waktu tiga bulan pertama tahun ini. ''Target zero carbon itu bisa tercapai,'' kata dia.

Abu Dhabi, ibu kota federasi tujuh anggota Uni Emirat Arab, juga akan membangun reaktor hidrogen terbesar di dunia dengan kapasitas 500 megawatt.

Teknologi Karbon

Masdar akan memegang 60 persen saham dalam proyek joint-venture itu. Sisa saham akan dibagi sama antara British Petroleum dan Rio Tinto. Dia menjelaskan, rancangan desain dan tahap pembangunan awal akan selesai pada akhir 2008.

Selain pembangunan unit-unit spektakuler itu, Masdar juga akan membangun jaringan penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS). Dengan fasilitas itu, gas-gas rumah kaca akan dapat dipompa ke dalam sumur-sumur minyak, sehingga emisi gas dapat dikurangi.

Fasilitas CCS dengan demikian akan membebaskan teknologi pengeboran minyak dari penggunaan gas alam. Selama ini, gas alam disuntikkan kembali ke sumur minyak untuk mendorong minyak keluar dari sumur. Di pihak lain, gas itu akan dapat dipakai untuk kebutuhan pembangkit listrik yang terus meningkat.

Meski demikian, teknologi karbon itu memang belum terbukti menguntungkan secara komersial.

Menurut laporan Program Pembangunan PBB, emisi gas rumah kaca di wilayah emirat itu mencapai 34,1 ton pada 2004, atau terbesar ketiga setelah Qatar dan Kuwait.(rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA