| Selasa, 22 Januari 2008 | BANYUMAS |
KiprahBP Dialog dengan NapiPURWOKERTO-Suasana gayeng dan penuh canda tawa mewarnai acara silaturahmi Bambang Priyono dengan 300 narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Purwokerto. Acara berlangsung di Masjid Al- Taubah di kompleks lapas, diisi pengajian oleh H Abdul Mukti, Sabtu (19/1). ''Saya sudah kenal siapa Bambang Priyono atau BP. Saya yakin orangnya jujur, membela kebenaran, dan memperjuangkan moral akhirnya akan dimuliakan juga, seperti contohnya Nabi Muhammad SAW yang dizalimi,'' komentar Abdul Mukti. Acara dilanjutkan dialog antara para napi dengan BP. ''Mumpung ada orangnya, dan hanya dia yang mau berkunjung ke sini, silakan bapak-bapak bertanya,'' kata moderator. Seorang napi bernama Suhedi memberanikan diri menyampaikan aspirasinya. Dikatakan, para penghuni LP juga manusia, dan di tempat itu mereka bisa merenung. Para napi juga minta fasilitas ditambah, apalagi penghuninya sudah terlalu padat. ''Bagaimana nasib para ''alumni ''setelah keluar dari LP apa dapat bekerja ? ujar Suhedi. Sebelum menjawab, BP menjelelaskan, saat bersilaturahmi kedesa-desa kadang-kadang namanya diplesetkan. BP adalah Balane Penderes, Balane Pamong, Balane Pegawai, Balane Panginyongan. Tetapi pernah diprotes warga Baturraden yang menyebut Balane Bakul Pring. ''Maksudnya senang pringas- pringis!'' kata BP yang disambut tawa para napi. Dijelaskan, waktu menjadi ketua Senat Mahasiswa, jadi anggota DPRD Jateng, dan saat di Bappeda Banyumas, BP pernah meneliti kenapa orang berbuat jahat. Ternyata, salah satunya karena terhimpit ekonomi. ''Hal itu karena pemerintah tidak bisa menciptakan lapangan kerja. Saat menjadi kpala Bappda saya menerapkan program pelatihan terhadap anak muda yang ada di Lapas, berupa ketrampilan elektronik, mesin, sablon, bahkan saya mengsulkan dan melaksanakan program pemberian permodalan usaha untuk mereka,'' katanya. 331 Desa Untuk lapangan pekerjaan, di mana-mana ketika mengunjungi setiap 331 desa di Banyumas pertanyaan yang muncul adalah: Apa Banyumas bisa jadi seperti Purbalingga ?. BP bertekad untuk merubah pola pikir birokrasi, bahwa birokrasi adalah untuk melayani, karena para birokrasi atau pemerintah itu dibayar oleh rakyat. Dalam perizinan investasi misalnya, akan dipermudah persyaratan dan penyelesaiannya. BP mengatakan, sudah melakukan pendekatan dengan pengusaha Jepang yang sanggup melakukan investasi untuk pendirian pabrik sumpit dan pengolahan gula. ''Banyak tenaga kerja yang dibutuhkan pabrik tersebut,'' ujarnya.(P16-55) |