| Senin, 21 Januari 2008 | SALA |
50 Tahun Jadi Tukang Cukur JalananSETENGAH abad sudah Kartodirdjo (75) menjadi tukang cukur jalanan, alias misbar (jika gerimis dipastikan bubar-red). Namun kakek delapan cucu itu tetap setia dengan ''profesi'' yang telah menghidupi keluarganya itu. Tiap pasaran pon, wage, dan legi, Kartodirjo selalu ada di tengah hiruk-pikuk pedagang Pasar Pedak, Ngrombo, Plupuh, Sragen. Sepeda mini yang selalu digunakan untuk mengangkut peralatan mencukur seperti, gunting listrik, gunting sorong, cermin, dan pisau cukur pun masih setia menemaninya. Pukul 07.00, dia sudah membuka ''dasaran'' di samping rumah Ridwan yang sudah jadi tempat mangkalnya selama 20 tahun. Sejatinya, di pasar itu ada dua tempat cukur tradisional yaitu milik Sutris (50) dan Parno (42), ditambah sebuah salon kecantikan. Namun Kartodirjo tak ciut nyali untuk bersaing dengan mereka. "Kami sama-sama mencari rezeki, dengan cara menawarkan jasa cukur rambut di pasar ini. Selama ini kami bersaing secara sehat," ujarnya. Sabtu (20/1) yang bertepatan dengan pasaran legi, lelaki berkacamata itu mengaku sedang sepi order. Menurut pria asli Dukuh, Karangasem, Kecamatan Tanon, Sragen, sejak banjir bandang menerjang Sragen termasuk wilayah Plupuh dan Tanon, akhir tahun 2007, pendapatannya menurun drastis. Rp 10.000/Hari Dalam sehari Kartodirdjo mengaku hanya mengantongi uang Rp 12.000. Jumlah itu pun masih dipotong biaya mencantol listrik di rumah Ridwan, Rp 2.000. "Saya hanya membawa pulang Rp 10.000 setiap hari,'' kata lelaki yang mengaku pernah menjadi tahanan politik di LP Batu, Nusakambangan, Cilacap. Kartodirjo yang mengaku piawai mencukur rambut pelanggannya model napoleon, paris, cepak, atau bros, itu menyatakan sudah lama tidak menaikkan harga jasa potongnya. ''Sudah tiga tahun terakhir ini, saya belum menaikkan tarif. Pelanggan dewasa cukup membayar Rp 3.000 dan anak-anak Rp 2.000. Beberapa kali saya berniat menaikkan ongkos potong rambut menjadi Rp 5.000, tapi selalu diprotes pelanggan. Akhirnya saya batalkan. Tapi saya bingung penghasilan Rp 10.000 setiap hari tak cukup untuk membeli beras.'' Tukimin (35), seorang pelanggannya menyatakan potong rambut di Kartodirdjo terkenal murah. ''Hasilnya pun rapi. Tapi ongkosnya jangan dinaikkan menjadi Rp 5.000. Kasihan bagi keluarga tidak mampu seperti saya ini," tutur Tukiman saat mencukurkan rambut anaknya, Pipit (9). (Budi Sarmun S-50) |