| Senin, 21 Januari 2008 | SALA |
Pameran Lukisan Potret Cikal Bakal Kebudayaan JawaSOLO-Pameran seni rupa di pendapa joglo Taman Sriwedari yang dibuka Sabtu malam lalu, tampak beda. Selain memajang lukisan potret Raja-raja Dinasti Mataram, juga menyuguhkan geguritan dan tari. Suasana agak beda juga bisa dilihat dari pengunjungnya. Selain komunitas seni rupa dan seni tradisional, hadir juga pemerhati kebudayaan Jawa dan komunitas spiritual. Sebanyak 10 lukisan potret raja-raja yang pernah berkuasa di Keraton Surakarta dan Istana Mangkunegaran yang dipamerkan adalah karya perupa Basuki Bawono dari Bandung. Dikatakan oleh Ny RA Agustien Wibiasty, penyelenggara, pameran itu semacam pelaksanaan dawuh (perintah-red) yang pernah diterimanya hampir setahun lalu. Ada kekuatan spiritual yang memerintahnya untuk melaksanakan pameran itu. Bahkan saat mencari tempat pameran pun, kekuatan itu muncul untuk memilih lokasi sesuai kata hatinya. ''Ada kekuatan tertentu yang membuat saya menggelar pameran raja-raja Mataram,'' ujarnya. Pameran bertema Mulat Sariro, yang merupakan salah satu tuntunan kebudayaan Jawa, itu cukup menarik minat pengunjung. Selain menyaksikan visualisasi lukisan, mereka juga mencari pengetahuan seputar tokoh yang dipamerkan. Sepuluh tokoh yang dilukis yaitu Sultan Agung Hanyokrokusuma, Panembahan Senopati, Paku Buwono VII, Paku Buwono X, Mangkunegoro I, II, IV,VI dan Mangkunegoro VII serta Sunan Kalijaga. Hanya, lukisan Mangkunegoro I atau lebih dikenal sebagai Raden Mas Said, divisualisasikan dalam bentuk surya atau matahari. Menurut Ny Agustien yang merupakan canggah (generasi kelima-red) Mangkunegoro III itu, pemilihan raja-raja dinasti Mataram itu tidak lepas dari peran mereka dalam membangun kebudayaan Jawa. ''Tokoh-tokoh tersebut akan mengingatkan masyarakat tentang kebudayaan yang mereka bangun sebagai ajaran kautaman tentang tata laku hidup dan kehidupan,'' katanya. Hal -hal seperti itu barangkali yang banyak menarik perhatian pengunjung. Apalagi keesokan harinya (Minggu pagi), di tengah pendapa juga digelar sarasehan seputar kebudayaan Jawa. Perlu Didukung Menurut Tri Handayani, pemerhati budaya, pameran itu perlu didukung, karena tidak sekadar mengingatkan ajaran dan budaya Jawa. Namun yang justru lebih penting, bagaimana ajaran atau konsep kebudayaan yang dianggap adiluhung itu. ''Ahli waris kebudayaan Jawa wajib mikul duwur mendem jero. Bagaimana mengangkat kelebihan nenek moyang, dan menutupi kekurangannya. Hanya mestinya harus ada yang menjadi panutan,'' katanya. Peserta lain, Sugeng Nugroho menyebutkan, kebudayan Jawa bisa dimaknai sebagai tatanan nilai-nilai kehidupan orang Jawa yang dianggap adiluhung. Hal itu akan bermakna jika diikuti dengan perilaku masyarakat yang mempelarinya. ''Jika tidak dilakoni bukan ilmu atau ajaran, tetapi sekedar hafalan pengetahuan. Tapi jika dijabarkan dalam perilaku, baru bisa disebut ilmu atau ajaran yang adiluhung. Saat ini masyarakat baru sebatas melu handarbeni, melu hanggondeli (ikut memiliki dan mempertahankan-red) tapi belum mulat sariro hangroso wani (berani instrospeksi diri-red). (sri-63) |