| Senin, 21 Januari 2008 | RAGAM |
Generasi Platinum (3-Habis)Bentengi Anak dengan AkhlakDALAM bagian kedua disebutkan, orang tua perlu mendampingi anak-anaknya setiap saat, agar informasi yang masuk benar-benar bermanfaat bagi anak-anak generasi platinum. Ya, keluarga memegang peran penting da-lam mengarahkan generasi ini. Tetapi sekolah juga me-miliki peran besar. Proses belajar di sekolah perlu mengompensasi hilangnya nilai-nilai kehidupan penting pada anak-anak, akibat pemanfaatan teknologi yang tidak proporsional. Bagaimana caranya? Sekolah perlu melakukan proses pembelajaran yang memberi peluang besar bagi terjadinya interaksi intens antarsiswa, antara siswa dan guru, serta antara siswa dan lingkungan sekitarnya. Pendekatan ini bisa dilakukan dengan model-model pembelajaran inquiry dan discovery. Dengan model itu, siswa didorong untuk terlibat dalam rumusan masalah dan mencari solusinya secara aktif, baik secara konseptual, empirik, dan hipotetik. Se-hingga mereka diajak berpi-kir secara kelompok, kemudian berbagi pengalaman. Dari sini bisa diintegrasi-kan pesan moral seperti tolerensi, empati, kejujuran, keuletan bekerja, sikap man-diri, dan sebagainya. Akhirnya, semua itu dapat membangun sistem nilai anak-anak yang tidak mementingkan diri sendiri, yang hanya mengarah pada perilaku egoistis. Menurut pakar dan peneliti pendidikan, Buchori Nasution, masalah yang dihadapi anak-anak saat ini adalah globalisasi. Cepatnya perkembangan teknologi informasi sebagai salah satu buah globalisasi, mempermudah penyebaran arus informasi. Life Skill Buchori memaparkan, tujuan pendidikan pada dasarnya membekali anak didik untuk bertahan hidup (survive) menghadapi tantangan masa depan. Diperlukan kurikulum yang meliputi leadership, ilmu terapan, dan life skill. Kurikulum leadership dapat diberikan sejak usia dini, dimulai dengan tahapa eksplorasi potensi untuk memimpin diri sendiri dan orang lain. Pendidikan juga harus mendukung kemampuan mengenal diri, komunikasi, menyatu dengan yang lain, membuat keputusan, dan manajemen. Sedangkan life skill adalah kemampuan mengidentifikasi kebutuhan dan peluang, merancang desain, evaluasi pasar, melakukan rencana dan aksi, penggunaan teknologi informasi, dan lain-lain. Hasil penelitian Harvard University (1996) menunjukkan, saat berada di sekolah, anak menghabiskan sekitar 85 persen waktunya untuk menguasai sains dan teknologi. Sedangkan tuntutan memelajari dan memahami akhlak (moral) hanya sekitar 15 persen. Namun ketika masuk dunia nyata, tuntutan ini justru terbalik. Lingkungan hanya menilai keilmuannya sekitar 10 persen. Tetapi justru menuntut 90 persen moralnya. Moral merupakan landasan sekaligus benteng atas tindakan yang dilakukan anak didik. (Wahyu Atmaji-32) |