| Senin, 21 Januari 2008 | RAGAM |
Jangan Biarkan Tempe MenghilangKenaikan harga kedelai membuat para perajin tempe di Indonesia kelimpungan. Padahal makanan ini menjadi semacam ''menu wajib'' bagi masyarakat Indonesia yang didominasi kelompok menengah ke bawah. BANYAK orang yang menyepelekan keberadaan tempe. Ketika anak-anak cerdas sekarang disebut sebagai generasi platinum, orang-orang dengan tingkat intelektual pas-pasan malah disebut sebagai generasi tempe. Anggapan ini perlu diluruskan, mengingat tempe merupakan bahan makanan kaya nutrisi, khususnya protein. Protein merupakan salah satu zat gizi yang terkait dengan kecerdasan. Jadi, tak benar kalau mengonsumsi tempe membuat orang bodoh. Bukan hanya itu, tempe juga mengandung isoflavon, zat aktif yang mampu menurunkan kadar kolesterol darah. Tak heran jika mereka yang terbiasa mengonsumsi tempe secara rutin relatif aman dari penyakit jantung. Bahkan Asosiasi Jantung Amerika (AHA) pun menyeru masyarakatnya, terutama penderita kolesterol tinggi, agar mengonsumsi tempe dan makanan/minuman lainnya yang terbuat dari kedelai. Kalau dikonsumsi rutin oleh kaum perempuan, maka risiko terkena kanker payudara bisa ditekan. Hal ini sudah dibuktikan melalui berbagai pe-nelitian di Jepang, Singapura, dan Amerika. Masyarakat Jepang dan China pun sudah lama mengonsumsi bahan makanan dari kedelai. Bahkan tempe yang asli dari Indonesia pun mulai digemari sejak dekade 1950-an. Ternyata tingkat kematian akibat kanker payudara dan prostat di kedua negara besar Asia itu sangat rendah. Sebuah studi di Jepang, yang menggunakan 23 perempuan sebagai objeknya, menyimpulkan bahwa perempuan yang mengonsumsi tempe minimal tiga kali seminggu akan mengalami penurunan risiko terkena kanker payudara. Rekomendasi ini tak berbeda jauh dari hasil penelitian di Singapura. Bahkan, selain dapat mencegah kanker payudara, mengonsumsi tempe secara rutin dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit, membuat kulit halus, dan muka berseri-seri. Kedelai juga mengandung lecithin, yang mempunyai sifat lipotropik, yaitu mendorong pengangkutan asam lemak dari hati ke jaringan-jaringan tubuh, serta meningkatkan pembakaran lemak dalam hati. Dengan demikian, kedelai dapat mencegah penimbunan lemak secara berlebihan. Kemampuan inilah yang membuat kedelai dikenal sebagai bahan terapi awet muda dan antigemuk. Manusia yang levernya banyak mengandung lemak biasanya mengalami gangguan dalam pertukaran zat dalam tubuh. Sebab lever yang mestinya memecah lemak dan menetralkan racun tidak bertugas sebagaimana mestinya. Akibatnya tubuh menjadi payah dan wajah tampak tua. Dengan adanya lesitin, kelebihan lemak pada lever da-pat dikurangi. Kerjanya pun normal kembali. Maka, tubuh kembali segar, sehingga ditafsirkan orang sebagai awet muda. Serat Tjentini Khasiat tempe yang mampu membuat kulit halus, muka berseri, dan awet muda ini punya keterkaitan dengan apa yang tertulis dalam Serat Tjentini, kitab berbahasa dan bertuliskan huruf Jawa. Dalam kitab ini dituliskan bahwa tempe mulai dikonsumsi keluarga kerajaan dan kaum bangsawan di Jawa sejak abad ke-16. Dengan demikian, selain faktor herbal cosmetic dan jamu tradisional, kulit halus dan muka berseri-seri yang dimiliki kaum bangsawan ini juga terpengaruh oleh kebiasaan mengonsumsi tempe. Ketika VOC menjajah Indonesia sejak 1602, orang-orang Belanda mulai ketagihan tempe. Kemudian muncullah perajin tempe di berbagai daerah, dan tempe menjadi makanan rakyat sehari-hari. Begitu pula dengan tentara Jepang yang menduduki Indonesia tahun 1942-1945. Mereka juga ketagihan. Tetapi Belanda berbeda dengan Je-pang. Meski menyukai, orang-orang Belanda menyebut penduduk pribumi yang bodoh sebagai generasi tempe. Bung Karno pun sempat terprovokasi, sehingga beliau pernah mengatakan bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa tempe. Sebaliknya, Jepang sangat memperhatikan makanan ini, termasuk mengadakan penelitian, bahkan kini sudah bisa memproduksi tempe. Sebagian warga Belanda yang pernah tinggal di Indonesia pun kerap membuat tempe di rumah-rumah, untuk mengobati kerin-duan sekaligus menikmati kelezatan makanan ini. Jika masyarakat internasional memuliakan tempe, mengapa makanan ini justru mulai tersia-siakan di negeri yang pertama kali memperkenalkannya: Indonesia? Pemerintah RI tidak bisa mengikuti begitu saja harga kedelai yang melambung di pasar dunia. Kalau hal itu tetap dilakukan, maka kelangkaan dan melambungnya harga kedelai akan terus terjadi. Makin banyak perajin tempe yang kolaps, serta akhirnya gulung tikar. Yang akan terjadi selanjutnya, bukan hanya kedelai yang menghilang, tempe pun akan mengalami nasib serupa. Muncul wacana untuk kembali ke masa lalu, di mana peran Bulog perlu dikembalikan sebagai wadah pengendali harga dan stok bahan-bahan pokok, termasuk gula, terigu dan beras yang belakangan ini juga bermasalahterus. Tak perlu dipersoalkan apakah pengembalian peran itu bakal mengembalikan statusnya dari perum menjadi lembaga pemerintah nondepartemen. (Dudung Abdul Muslim-32) |