logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Januari 2008 MURIA
Line

Perajin Keripik Tempe di Blora

Prioritas Mempertahankan Pelanggan

PERLAHAN namun pasti, harga minyak goreng memasuki bulan September lalu, melonjak. Kala itu umat Islam tengah menjalankan ibadah Puasa. Kenaikan harga minyak tersebut tentu saja membuat para perajin keripik tempe di Blora harus memutar otak, jangan sampai usahanya gulung tikar. Apalagi dalam waktu hampir bersamaan, harga terigu juga naik.

Dengan berbagai jurus jitu, mereka pun akhirnya tetap bisa berproduksi meski untung yang diraihnya tidak banyak.

Namun, belum lagi gelombang masalah yang menerpa produksi keripik tempe berlalu, kini muncul lagi persoalan yang tak kalah pelik.

Harga kedelai (Glycine max) melonjak tajam. Meski demikian berbagai cara ditempuh agar renyahnya keripik tempe tetap bisa dinikmati warga, terutama para pelanggan.

Rinawati (35) salah seorang perajin di Kelurahan Kedungjenar Kecamatan Blora mengakui, sejak harga minyak goreng dan kedelai naik, dia sulit mencari untung.

Modal yang dikeluarkan semakin banyak. Padahal, untuk menaikan harga jual, jelas tidak mungkin. Dia mengaku khawatir para pelanggannya akan lari.

"Cukup sulit mendapatkan pelanggan, apalagi mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Salah satu cara pelanggan tidak lari adalah dengan tidak menaikkan harga," ujarnya kemarin.

Buat Tempe

Kesulitan mendapatkan tempe menjadikan sebagian perajin membuat sendiri bahan baku keripik tersebut. Rinawati menceritakan, setiap hari rata-rata menghabiskan lima kilogram kedelai seharga Rp 8 ribu per kilogram.

Sebelumnya hanya Rp 3.500/kg. Belum lagi harga minyak goreng dan tepung terigu yang terus melambung. Padahal, untuk menggoreng keripik, minyak goreng yang digunakan harus berkualitas bagus. Jika jelek, akan memengaruhi kualitas.

Harga minyak goreng kualitas bagus Rp 12 ribu/kg. Untuk semua kebutuhan produksi dalam satu hari itu, dia harus mengeluarkan biaya tak kurang dari Rp 200 ribu.

Harga produk keripik di sentra keripik tempe di Kelurahan Kedungjenar Blora hampir sama yakni rata-rata Rp 3.500 per bungkus isi sembilan lembar keripik. Tempe dari bahan baku kedelai lima kg itu paling banyak menghasilkan 50-60 bungkus.

"Tidak dapat untung malah rugi terus. Lain kali saja dipikirkan bagaimana caranya mendapatkan untung. Sekarang yang penting pelanggan tidak lari dulu," ujarnya.

Sebelum harga kedelai naik, mencari laba bersih Rp 50 ribu sehari saja gampang. Apalagi saat harga minyak goreng masih murah. Kebanyakan para pengusaha melibatkan tenaga kerja yang masih kerabat.

"Kalau membayar orang, malah tidak nutut," kata Ridwan, perajin tempe lainnya. (Abdul Muiz-54)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA