logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Januari 2008 SEMARANG
Line

Tunanetra Penjual Durian

Tak Ingin Bergantung pada Orang Lain

KEKURANGAN fisik tak harus membuat Arba'i (65), berpangku tangan. Ayah lima anak itu berprinsip tak ingin menggantungkan hidup pada orang lain. Pekerjaan apa pun akan dilakoni asalkan halal dan dia mampu melakukan demi menyambung hidup keluarganya.

Pada puncak musim durian saat ini, pria tunanetra itu mrema menjual buah berduri tajam tersebut. Di warung semipermanen yang berada di tepi jalan Kaliwungu-Boja, tepatnya di Desa Brayu, Kecamatan Singorojo, Kendal, dia juga menjual buah rambutan sebagai sampingan.

''Saya tidak bisa melihat lagi sejak 20 tahun lalu. Ketika diperiksa dokter, kondisi itu dikarenakan gangguan syaraf. Penyakit ini menyerang tiba-tiba,'' ungkap Arba'i didampingi istrinya, Rohmi (55), di warungnya kemarin.

Dia mengaku telah berobat ke sejumlah rumah sakit, namun hasilnya nihil. Karena keterbatasan dana, akhirnya dia memilih pasrah. ''Dulu saat mata masih normal, saya sering memanjat pohon durian untuk selanjutnya dijual. Lantaran ada gangguan mata, saya memilih hanya berdagang durian,'' paparnya.

Warga Dukuh Dilem RT 3 RW 1 Desa Kertosari, Singorojo, Kendal itu, menambahkan dia sudah 40 tahun lebih ''bergelut'' dengan buah beraroma keras itu. Berdagang durian dilakukan pada saat musim tiba seperti ini atau kisaran November-Februari.

Kalau lagi ramai, hasilnya cukup lumayan. Satu hari bisa laku 200 buah dengan keuntungan Rp 2.000/buah. Namun, kalau pembeli sepi, sehari hanya laku satu hingga lima buah.

''Itu rezeki dari Yang Maha Kuasa. Sudah seharusnya tetap disyukuri. Saya lebih sering menunggui dagangan di warung, sedangkan istri mencari durian dari petani,'' tuturnya.

Seragam

Arba'i menuturkan, di luar musim durian, untuk menghidupi keluarga, ia bekerja di ladang seluas satu hektare. Selain menanam padi gogo di sela-sela tanaman durian, juga menanam beberapa jenis bahan baku jamu.

''Dari lima anak kami, tiga di antaranya sudah mandiri dan berkeluarga. Kami masih memikirkan dua anak yang masih sekolah di STM Pegandon dan nyantri di pondok pesantren,'' ujarnya.

Warung Arba'i cukup strategis dan nyaman, karena di sisi timur merupakan kawasan hutan jati milik Perum Perhutani KPH Kendal, sedangkan di sebelah barat perkebunan karet PTPN IX Merbuh, Singorojo.

Di kiri-kanan jalan yang teduh oleh pepohonan hutan, tak hanya berdiri warung milik Arba'i. Sedikitnya ada 42 warung yang menjajakan durian dan rambutan. Sebagian besar warung ditunggui wanita-wanita muda yang menarik perhatian pembeli.

Harga durian dan rambutan yang dijajakan hampir seragam. Misalnya, durian kumbokarno yang memiliki ukuran besar dan buah manis dipatok Rp 35.000/buah, jenis bagong Rp 25.000/buah, dan rambutan Rp 4.000/ikat.

''Kami tak menganggap pedagang di sini sebagai pesaing. Masing-masing punya rezeki sendiri-sendiri. Yang penting saya menjual durian dijamin kualitasnya,'' kata Arba'i. (Setyo Sri Mardiko-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA