logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Januari 2008 SEMARANG
Line

Jejak Spiritual Pak Harto di Semarang (3-Habis)

Mengabaikan Isyarat Romo Diyat

DI Semarang, Romo Diyat tinggal di Jalan Sriwijaya No 70. Di tempat itulah ia memusatkan aktivitas spiritualnya. Dari waktu ke waktu, orang yang berguru kepadanya semakin banyak. Menurut Soeharijadi (72), keponakan Romo Diyat yang tinggal di Jalan Sanggung Barat Semarang, jumlah murid mencapai ribuan orang.

Mereka berasal dari pelbagai daerah dan latar belakang, mulai dari buruh, petani, pegawai, pengusaha, sampai orang berpangkat, seperti Soeharto.

Mereka datang tujuannya bermacam-macam. Ada yang mencari ketentraman batin, mendapat kemajuan usaha, jodoh, dan kenaikan pangkat atau jabatan. Ada pula yang berikhtiar mencari kesembuhan.

Dulu, kata Sukesy - murid Romo Diyat - rumah besar berpagar besi tinggi itu kerap terlihat ramai. Kendaraan berderet-deret memenuhi pelatarannya. Tiap Selasa Pahing para murid berkumpul menghadiri wiyosan (peringatan hari lahir) Romo Diyat.

Selain selamatan dengan kelengkapan nasi tumpeng dan kluban, acara diisi dengan mendengarkan wejangan-wejangannya. ''Seperti murid-murid yang lain, Pak Harto sering datang ke kediaman Romo Diyat,'' papar Soeharijadi.

Motivasi Pak Harto berguru kepada Romo Diyat, lanjut dia, adalah untuk beroleh ketentraman dan kemuliaan hidup. Pelbagai ritual yang dilakukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu. Untuk memperkuatnya, Pak Harto banyak memperoleh pusaka dari sang guru.

''Kalau nama-namanya saya tidak tahu. Yang saya tahu, wujudnya bermacam-macam, seperti kudi, keris, maupun arca. Salah satunya arca emas murni yang diambil dari daerah Sumurupas, Bali. Sepuluh pendeta ikut mengawal pusaka itu saat dibawa ke Jakarta naik pesawat,'' katanya.

Berbeda dari keterangan Ny Sukesy, Soeharijadi mengatakan, bahwa Soeharto masih kerap sowan ke tempat Romo Diyat, meski telah menjadi Presiden. Biasanya ia datang bersama Sudjono Humardani dan sejumlah pengawal.

Dia datang setelah sang romo memerintahkannya menjalani ritual tertentu. Sesekali Romo Diyat juga diundang ke Jakarta. Untuk itu, segenap fasilitas telah disediakannya.

Saat ada kunjungan dinas di Semarang, hampir bisa dipastikan ia sowan. Bahkan ketika Romo Diyat telah meninggal, beberapa kali Pak Harto nyekar ke makamnya di Klaten.

Pembangkang

Namun sayang, ujar Soeharijadi, murid yang patuh itu berubah menjadi pembangkang. Sebelum meninggal, Romo Diyat mengisyaratkan bahwa wahyu keprabon Pak Harto hampir habis. Untuk itu, dia diminta tak lagi mencalonkan diri pada Pemilu 1992.

Isyarat itu, jelas dia, didasarkan pada jumlah bunga wijaya kusuma miliknya di Klaten yang hanya mekar enam kuntum. Dari kacamata spiritual, itu pertanda wahyu kepemimpinan Soeharto hanya sampai enam periode.

Namun, piweling Romo Diyat dianggap angin lalu. Tahun 1986 guru spiritual asal Guwopaten, Klaten tersebut meninggal, dan Soeharto nekat untuk meneruskan kepemimpinannya. Penguasa Orde Baru itu harus membayar mahal. Ia mengalami kejatuhan tragis pada Mei 1998.

''Pak Harto tak menggubris isyarat Romo Diyat. Dia justru menuruti bujuk rayu orang-orang terdekatnya. Namanya wahyu tak bisa ditawar. Kalau habis, kekuasaan di tangan dengan sendirinya akan menghilang.'' (Rukardi-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA